Wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, 25 Februari 2019

Valentine Day Ala Para Frater



Karya: Dolin Anang
            Sesungguhnya, aku tidak mengenal hari itu dan bahkan aku tidak ingin mengenalnya. Sebab sesungguhnya aku merasa bahwa suasana hari itu selalu membuntuti kehidupanku di dalam komunitas ini. Demikian perasaanku pada suatu senja saat kopi hangat belum habis-habisnya menggairahkan pikiranku sore itu. Bilik jendela tua yang berhadapan dengan kapela biara, menjadi saksi permenunganku. Valentine’s day merupakan hari yang special bagi kebanyakan orang, bahkan sudah diakui oleh dunia terutama dunia percintaan. Inti dari valentine day adalah pengungkapan rasa kasih sayang seseorang terhadap yang lainnya terlebih bagi mereka yang memiliki pasangan hidup atau pun bagi mereka yang masih status berpacaran.  Orang biasanya merayakan hari valentine di tempat-tempat wisata beserta dengan pasangannya masing-masing. Segala perkakas percintaan pasti ditonjolkan pada hari itu. Mulai dari bunga, cincin, dan ciuman kasih sayang. Sedikit terganggu saja, saat mata tak sengaja melihat pasangan yang sedang bermesraan di tepi pantai, baku peluk dan tertawa meski  bahagianya hanya bersifat semu karena 2-3 hari kemudian, kata “putus” pasti mengikuti. Ahhhahaaa,,, sedikit sirik saja.
            Hari Valentine memang moment yang menyenangkan, apalagi kalau mood dengan pasangan lagi fine aja. Tidak demikian dengan para frater, hari valentine telah menahbiskan diri sebagai penggoda iman para calon imam. Hari itu seakan menjadi hari yang paling kejam dalam seluruh hari hidup para frater . Bayangkan saja, rata-rata usia para frater adalah 20-28 tahun. Pada usia-usia seperti ini, secara biologis manusia akan mengalami perasaan kasih sayang dengan lawan jenisnya. Oleh karena itu, sebagai manusia normal, tentu semua orang mengalami hal yang sama tanpa terkecuali.  Sulit untuk menjelaskannya, kalau ditanya: “seperti apa perasaan frater saat melihat orang lain berpacaran?” Kalau pertanyaan itu muncul dalam telingaku, aku akan mejawabnya, “jangan tanyakan padaku, tanyakan saja pada Dia yang memanggil aku, sebab aku juga tidak tahu kenapa demikian.
            Tanggal 14 February itu inginnya cepat berlalu. Bahkan bila perlu aku harus novena 3 kali salam maria untuk memperpendek hari itu. Hari yang sangat kejam dan rentan dalam perjalanan seorang musafir. Meski demikian, hari itu juga merupakan hari yang penuh syukur, karena hari itu bisa dijadikan bahan refleksi dan pertimabanga para frater untu kehidupan panggilannya. Hal yang paling penting dari hari itu untuk para frater adalah bagaimana mereka harus bisa mendalami arti dari hari itu. Apa pesan dan makna yang ditonjolkan dari hari kasih yang penuh sayang itu. Inilah hakikat dan makna valentine ala para frater. Kalau kebanyakan orang merayakannya di tepi pantai, para frater cukup seduhkan segelas kopi lalu duduk dekat jendela yang berhadapan dengan kapela lalu merenungkan panggilannya. Kalau kebanyakan orang menukar kado dengan pasangannya, mereka cukup ambil secarik kertas dan pena lalu mengabadikan perasaan kasih sayangnya kepada Tuhan yang memberinya hidup, kepada orang tua yang yang membesarkannya dan kepada sahabat yang selalu bergandengan tangan dalam membentuk pribadinya hingga saat ini dan kepada semua orang yang ia cintai.
            Sepertinya, kopi hangat yang kuseduhkan telah habis bercerita dan tinggal ampas yang tersisa dalam gelas. Cahaya senja pun beranjak pergi meninggalkan kami di depan jendela tua dekat biara itu. Tampaknya, sudah saatnya aku harus menutup jendela tua ini, karena nyaring suara lonceng tepat jam 06 sore itu telah mengusik di telingaku pertanda pujian senja akan mulai dikidungkan kembali.

San Kamilo, 14 Februari 2019.
Mencintai tidak selalu kepadanya, sesungguhnya mencintai itu adalah cinta yang bebas kepada siapa saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar