Karya: Dolin Anang
Sesungguhnya,
aku tidak mengenal hari itu dan bahkan aku tidak ingin mengenalnya. Sebab
sesungguhnya aku merasa bahwa suasana hari itu selalu membuntuti kehidupanku di
dalam komunitas ini. Demikian perasaanku pada suatu senja saat kopi hangat
belum habis-habisnya menggairahkan pikiranku sore itu. Bilik jendela tua yang
berhadapan dengan kapela biara, menjadi saksi permenunganku. Valentine’s day
merupakan hari yang special bagi kebanyakan orang, bahkan sudah diakui oleh dunia
terutama dunia percintaan. Inti dari valentine day adalah pengungkapan rasa
kasih sayang seseorang terhadap yang lainnya terlebih bagi mereka yang memiliki
pasangan hidup atau pun bagi mereka yang masih status berpacaran. Orang biasanya merayakan hari valentine di
tempat-tempat wisata beserta dengan pasangannya masing-masing. Segala perkakas
percintaan pasti ditonjolkan pada hari itu. Mulai dari bunga, cincin, dan
ciuman kasih sayang. Sedikit terganggu saja, saat mata tak sengaja melihat
pasangan yang sedang bermesraan di tepi pantai, baku peluk dan tertawa
meski bahagianya hanya bersifat semu
karena 2-3 hari kemudian, kata “putus” pasti mengikuti. Ahhhahaaa,,, sedikit
sirik saja.
Hari
Valentine memang moment yang menyenangkan, apalagi kalau mood dengan pasangan lagi fine
aja. Tidak demikian dengan para frater, hari valentine telah menahbiskan diri
sebagai penggoda iman para calon imam. Hari itu seakan menjadi hari yang paling
kejam dalam seluruh hari hidup para frater . Bayangkan saja, rata-rata usia
para frater adalah 20-28 tahun. Pada usia-usia seperti ini, secara biologis
manusia akan mengalami perasaan kasih sayang dengan lawan jenisnya. Oleh karena
itu, sebagai manusia normal, tentu semua orang mengalami hal yang sama tanpa
terkecuali. Sulit untuk menjelaskannya,
kalau ditanya: “seperti apa perasaan frater saat melihat orang lain
berpacaran?” Kalau pertanyaan itu muncul dalam telingaku, aku akan mejawabnya,
“jangan tanyakan padaku, tanyakan saja pada Dia yang memanggil aku, sebab aku
juga tidak tahu kenapa demikian.
Tanggal
14 February itu inginnya cepat berlalu. Bahkan bila perlu aku harus novena 3
kali salam maria untuk memperpendek hari itu. Hari yang sangat kejam dan rentan
dalam perjalanan seorang musafir. Meski demikian, hari itu juga merupakan hari
yang penuh syukur, karena hari itu bisa dijadikan bahan refleksi dan
pertimabanga para frater untu kehidupan panggilannya. Hal yang paling penting
dari hari itu untuk para frater adalah bagaimana mereka harus bisa mendalami
arti dari hari itu. Apa pesan dan makna yang ditonjolkan dari hari kasih yang
penuh sayang itu. Inilah hakikat dan makna valentine ala para frater. Kalau
kebanyakan orang merayakannya di tepi pantai, para frater cukup seduhkan
segelas kopi lalu duduk dekat jendela yang berhadapan dengan kapela lalu
merenungkan panggilannya. Kalau kebanyakan orang menukar kado dengan
pasangannya, mereka cukup ambil secarik kertas dan pena lalu mengabadikan
perasaan kasih sayangnya kepada Tuhan yang memberinya hidup, kepada orang tua
yang yang membesarkannya dan kepada sahabat yang selalu bergandengan tangan
dalam membentuk pribadinya hingga saat ini dan kepada semua orang yang ia
cintai.
Sepertinya,
kopi hangat yang kuseduhkan telah habis bercerita dan tinggal ampas yang
tersisa dalam gelas. Cahaya senja pun beranjak pergi meninggalkan kami di depan
jendela tua dekat biara itu. Tampaknya, sudah saatnya aku harus menutup jendela
tua ini, karena nyaring suara lonceng tepat jam 06 sore itu telah mengusik di
telingaku pertanda pujian senja akan mulai dikidungkan kembali.
San Kamilo, 14 Februari 2019.
Mencintai tidak selalu kepadanya, sesungguhnya
mencintai itu adalah cinta yang bebas kepada siapa saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar