Oleh:
DolinAnang
Malam pekat menyapa, mengundang
kedinginan di kota tempat tinggalku. Satu-satunya teman
sejati menikmati kedinginan kota adalah kopi hangat buatan ibu. Tepat sekali,
kopi ini kian menemaniku sepanjang malam ini sambil menunggu event yang
ditunggu-tunggu oleh semua orang di tanah air tercinta ini. Dari kemarin sore telah terngiang di
telingaku tentang apa yang akan terjadi malam ini. Di sebuah kursi kayu buah
tangan ayahku, kusandarkan diri sambil menyeruput kopi buatan ibu. Di depanku, telah terpajang rapi sebuah layar televisi berukuran 21 inchi. Malam itu, merupakan malam
yang dinanti-nantikan kami sekeluarga untuk menyaksikan kandidat calon presiden
berdebat di atas panggung sandiwara itu. Ya, pangggung sandiwara karena memang
semuanya telah diatur sedemikian rupa. Kendati demikian, niatku untuk
menyaksikan debat pada malam itu semakin membara dan seakan-akan tak tertahan. Motif menonton debat malam ini hanya satu yaitu seperti apa gelagat dan visi misi yang
dipaparkan para calon presiden tanah air
kali ini.
Tibalah saatnya, moment yang ditunggu-tunggu itu dimulai. Dalam salah satu siaran televisi kesukaan sekeluarga, ditampilkan sosok kandidat yang akan bertandang dalam laga perdebatan pada
malam itu. Saking seriusnya aku menonton, ayah menepuk bahuku sembari berkata:
“ Nak, cukup kau pelajari saja, bagaimana menjadi pemimpin yang baik dalam
hal-hal kecil, tidak perlu menjadi besar, sebab kelak jika engkau menjadi orang
besar, kau lupa akan orang-orang kecil. Tetapi ketika engkau setia pada hal-hal kecil, maka disaat itulah kau telah menjadi orang besar.” Pernyataan yang keluar dari mulut
ayah, seakan memukul mundur niatku untuk menyaksikan debat calon presiden pada
malam itu. Dalam perkataan ayah rupanya menyimpan sisi negative dari para calon
presiden itu. Lalu, aku balik bertanya kepada ayah: “ Iya ayah, tapi kalau
misalkan Negara ini berdiri tanpa pemimpin, kira-kira seperti apa dalam
bayangan ayah akan nasib bangsa ini?” Ayah diam sejenak, lalu dengan suara
sedikit mengecil ia berkata “ sama saja nak, sudah puluhan tahun negara ini
dipimpin dengan tujuan menyejahterakan masyarakat, namun tidak ada hasil yang
memuaskan seperti pada saat mereka berkampanye. Adapun bukti nyata namun kalau boleh,
ayah ibaratkan itu hanya merupakan ampas kopi yang tersisa, sedangkan
keharuman aslinya kopi hanya dinikmati elite tertentu.” Lagi dan lagi,
perkataan ayah sepertinya tersirat perasaan curiga dan dendam yang besar
terhadap kaum elita bangsa ini. Politik demokrasi yang didengungkan selama ini seakan sedang mengarah kepada moncong oligarki, dimana sistem politik demokrasi yang dijalankan dijembatani untuk melanggengkan politik transaksional. “Benar juga pernyataan ayah, namun sepatutnya
kita tetap bersyukur karena para founding fathers bangsa ini telah menyediakan
kita suatu bangsa yang berdemokrasi dan memperpanjang tangan kepemimpinan
mereka kepada setiap orang yang bisa memimpin Negara ini.” Sahutku kepada ayah.
Perbincangan dianatara aku dan ayah
rupanya kian menghangat, sampai-sampai suara ibu yang biasanya polos selama ini
berubah menjadi suara militer yang mengharuskan kami untuk diam. Aku hanya
tersenyum, sambil menggigit secangkir kopi buatan ibu dan menyeruput isinya yang belum habis
itu. Sedang ayah perlahan mengambil posisi yang strategis untuk menyaksikan
debat calon presiden yang disiarkan langsung pada malam itu. Perdebatan pun di
mulai, Suasana mendadak berubah total. Situasi ruangan pun seakan tanpa
penghuni, hingga hanya suara televisi yang terdengar. Perdebebatan yang dibagi
atas beberapa sesi itu, disaksikan dengan penuh khidmat. Lalu, pada saat jeda,
ayah kembali menoleh ke arahku dan berkata, “apa yang kau dapat dari beberapa sesi
yang telah ditampilkan?” Sebelum aku menyempatkan diri untuk menjawab
pertanyaan ayah, ibu dengan langkah nada sergap mengatakan, “ Dari visi-misi
yang telah dipaparkan kedua paslon, saya lebih condong kepada paslon A karena
visi-misinya jelas dan tepat sasar yaitu demi kemajuan bangsa ini. Sementara
paslon B secara gamblang menampilkan siasatnya bahwa ia ingin mejadi pemimpin
hanya untuk berkuasa.”
Benar juga penilaian mama, sahutku.
Namun, dari beberapa sesi yang telah dilangsungkan itu, saya belum merasa puas
akan keduanya sebab keduanya hanya menampilkan visi-misi yang notabene masih
ideal. Namun, bagaimanapun, penilaian ibu memang benar karena ini hanya
merupakan pemaparan visi-misi meski di kemudian hari tidak dilaksanakan dan
itulah yang sering terjadi dalam dunia poitik selama ini yang sempat disinggung
ayah. Lalu, ayah dengan nada mau
menghindarkan diri ruangan televisi itu mengatakan, “ Sistem demokrasi bangsa
ini hanya berlangsung selama masa pemilu. Lihat saja, kita yang dinamakan
masyarakat ini hanya dilibatkan sekali dalam lima tahun untuk berpartisipasi
dalam ranah politik. Setelah mereka menduduki kursi pemerintahan, kita tetap
menjadi seperti ini dan tidak diberi kesempatan untuk mengontrol apakah mereka
benar-benar bekerja untuk kesejahteraan kita atau tidak. Kamu masih terlalu muda anakku, kamu mbelum mengetahui seperti apa nestapa yang diciptakan di balik sistem demokrasi negara kita ini. Coba kamu saksikan
saja, Koran harian yang kita baca selalu menyampaikan adanya kesenjangan dalam
masyarakat. Mulai dari kasus kemiskinan, kelaparan terlebih lagi kasus
korupsi yang hampir setiap hari didengungkan di sana. Coba kamu saksikan hidup
kita di rumah ini. Tiap hari saya mesti menjemur diri di bawah terik matahari
demi sesuap nasi, sedang para penguasa itu, hidup bermewahan dengan uang rakyat
dan kita terus melarat seperti ini. Anakku, lebih baik bagiku beristirahat cepat malam
ini, dengan harapan saya bisa bangun dengan tubuh yang tetap segar di hari esok
dan bisa bekerja dengan baik untuk keluarga ini. Saya sudah bosan dengan
janji-janji para politisi itu. Kita hanya menjadi budak dalam penantian yang tidak pasti.” Perkataan panjang ayah sekaligus menutup
perbincangannya dengan kami pada malam itu. Ia segera bergegas ke tempat
tidurnya untuk beristirahat lebih dulu dan meninggalkan aku dan ibu di ruangan
televisi itu.
Ketika itu, ruangan terasa mencekam
tanpa suara. Ibu dengan mata melototnya menyaksikan kelanjutan debat itu, sedang
aku menyibukkan pikiranku dengan apa yang telah disampaikan ayah. Apakah semua
yang disampaikan ayah mengamini bahwa semua politisi tanpa terkecuali hanya
mementingkan dirinya sendiri? Kalau memang demikian, di mana spirit Pancasila
yang telah dijelaskan bapak dan ibu guruku di sekolah? Dimanakah semangat juang para founding fathers yang
dengan keringat darahnya membentuk Negara ini menjadi NKRI? Apakah semuanya
semuanya telah musnah dipenggal mati? Lantas, kalau memang demikian, apakah memilih untuk tidak memilih adalah suatu pilihan?
Penulis adalah seorang pengembara dalam dunia sastra dan filsafat. Tidak ada karya yang sempurna yang dihasilkannya. Sebab dalam hidup seorang pengembara, pencarian itulah kesempurnaannya, tanpa pernah tahu, sejauh mana ia akan pergi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar