Wikipedia

Hasil penelusuran

Kamis, 21 Februari 2019

Apakah Memilih untuk Tidak Memilih Adalah Suatu Pilihan?




Oleh: DolinAnang

            Malam pekat menyapa, mengundang kedinginan di kota tempat tinggalku.  Satu-satunya teman sejati menikmati kedinginan kota adalah kopi hangat buatan ibu. Tepat sekali, kopi ini kian menemaniku sepanjang malam ini sambil menunggu event yang ditunggu-tunggu oleh semua orang di tanah air tercinta ini.  Dari kemarin sore telah terngiang di telingaku tentang apa yang akan terjadi malam ini. Di sebuah kursi kayu buah tangan ayahku, kusandarkan diri sambil menyeruput kopi buatan ibu. Di depanku, telah terpajang rapi sebuah layar televisi berukuran 21 inchi. Malam itu, merupakan malam yang dinanti-nantikan kami sekeluarga untuk menyaksikan kandidat calon presiden berdebat di atas panggung sandiwara itu. Ya, pangggung sandiwara karena memang semuanya telah diatur sedemikian rupa. Kendati demikian, niatku untuk menyaksikan debat pada malam itu semakin membara dan seakan-akan tak tertahan. Motif menonton debat malam ini hanya satu yaitu seperti apa gelagat dan visi misi yang dipaparkan para calon presiden  tanah air kali ini.
            Tibalah saatnya, moment yang ditunggu-tunggu itu dimulai. Dalam salah satu siaran televisi kesukaan sekeluarga, ditampilkan sosok kandidat yang akan bertandang dalam laga perdebatan pada malam itu. Saking seriusnya aku menonton, ayah menepuk bahuku sembari berkata: “ Nak, cukup kau pelajari saja, bagaimana menjadi pemimpin yang baik dalam hal-hal kecil, tidak perlu menjadi besar, sebab kelak jika engkau menjadi orang besar, kau lupa akan orang-orang kecil. Tetapi ketika engkau setia pada hal-hal kecil, maka disaat itulah kau telah menjadi orang besar.” Pernyataan yang keluar dari mulut ayah, seakan memukul mundur niatku untuk menyaksikan debat calon presiden pada malam itu. Dalam perkataan ayah rupanya menyimpan sisi negative dari para calon presiden itu. Lalu, aku balik bertanya kepada ayah: “ Iya ayah, tapi kalau misalkan Negara ini berdiri tanpa pemimpin, kira-kira seperti apa dalam bayangan ayah akan nasib bangsa ini?” Ayah diam sejenak, lalu dengan suara sedikit mengecil ia berkata “ sama saja nak, sudah puluhan tahun negara ini dipimpin dengan tujuan menyejahterakan masyarakat, namun tidak ada hasil yang memuaskan seperti pada saat mereka berkampanye. Adapun bukti nyata namun kalau boleh, ayah ibaratkan itu hanya merupakan ampas kopi yang tersisa, sedangkan keharuman aslinya kopi hanya dinikmati elite tertentu.” Lagi dan lagi, perkataan ayah sepertinya tersirat perasaan curiga dan dendam yang besar terhadap kaum elita bangsa ini. Politik demokrasi yang didengungkan selama ini seakan sedang mengarah kepada moncong oligarki, dimana sistem politik demokrasi yang dijalankan dijembatani untuk melanggengkan politik transaksional. “Benar juga pernyataan ayah, namun sepatutnya kita tetap bersyukur karena para founding fathers bangsa ini telah menyediakan kita suatu bangsa yang berdemokrasi dan memperpanjang tangan kepemimpinan mereka kepada setiap orang yang bisa memimpin Negara ini.” Sahutku kepada ayah.
            Perbincangan dianatara aku dan ayah rupanya kian menghangat, sampai-sampai suara ibu yang biasanya polos selama ini berubah menjadi suara militer yang mengharuskan kami untuk diam. Aku hanya tersenyum, sambil menggigit secangkir kopi buatan ibu dan menyeruput isinya yang belum habis itu. Sedang ayah perlahan mengambil posisi yang strategis untuk menyaksikan debat calon presiden yang disiarkan langsung pada malam itu. Perdebatan pun di mulai, Suasana mendadak berubah total. Situasi ruangan pun seakan tanpa penghuni, hingga hanya suara televisi yang terdengar. Perdebebatan yang dibagi atas beberapa sesi itu, disaksikan dengan penuh khidmat. Lalu, pada saat jeda, ayah kembali menoleh ke arahku dan berkata, “apa yang kau dapat dari beberapa sesi yang telah ditampilkan?” Sebelum aku menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan ayah, ibu dengan langkah nada sergap mengatakan, “ Dari visi-misi yang telah dipaparkan kedua paslon, saya lebih condong kepada paslon A karena visi-misinya jelas dan tepat sasar yaitu demi kemajuan bangsa ini. Sementara paslon B secara gamblang menampilkan siasatnya bahwa ia ingin mejadi pemimpin hanya untuk berkuasa.”
            Benar juga penilaian mama, sahutku. Namun, dari beberapa sesi yang telah dilangsungkan itu, saya belum merasa puas akan keduanya sebab keduanya hanya menampilkan visi-misi yang notabene masih ideal. Namun, bagaimanapun, penilaian ibu memang benar karena ini hanya merupakan pemaparan visi-misi meski di kemudian hari tidak dilaksanakan dan itulah yang sering terjadi dalam dunia poitik selama ini yang sempat disinggung ayah.  Lalu, ayah dengan nada mau menghindarkan diri ruangan televisi itu mengatakan, “ Sistem demokrasi bangsa ini hanya berlangsung selama masa pemilu. Lihat saja, kita yang dinamakan masyarakat ini hanya dilibatkan sekali dalam lima tahun untuk berpartisipasi dalam ranah politik. Setelah mereka menduduki kursi pemerintahan, kita tetap menjadi seperti ini dan tidak diberi kesempatan untuk mengontrol apakah mereka benar-benar bekerja untuk kesejahteraan kita atau tidak. Kamu masih terlalu muda anakku, kamu mbelum mengetahui seperti apa nestapa yang diciptakan di balik sistem demokrasi negara kita ini. Coba kamu saksikan saja, Koran harian yang kita baca selalu menyampaikan adanya kesenjangan dalam masyarakat. Mulai dari kasus kemiskinan, kelaparan terlebih lagi kasus korupsi yang hampir setiap hari didengungkan di sana. Coba kamu saksikan hidup kita di rumah ini. Tiap hari saya mesti menjemur diri di bawah terik matahari demi sesuap nasi, sedang para penguasa itu, hidup bermewahan dengan uang rakyat dan kita terus melarat seperti ini. Anakku, lebih baik bagiku beristirahat cepat malam ini, dengan harapan saya bisa bangun dengan tubuh yang tetap segar di hari esok dan bisa bekerja dengan baik untuk keluarga ini. Saya sudah bosan dengan janji-janji para politisi itu. Kita hanya menjadi budak dalam penantian yang tidak pasti.” Perkataan panjang ayah sekaligus menutup perbincangannya dengan kami pada malam itu. Ia segera bergegas ke tempat tidurnya untuk beristirahat lebih dulu dan meninggalkan aku dan ibu di ruangan televisi itu.
            Ketika itu, ruangan terasa mencekam tanpa suara. Ibu dengan mata melototnya menyaksikan kelanjutan debat itu, sedang aku menyibukkan pikiranku dengan apa yang telah disampaikan ayah. Apakah semua yang disampaikan ayah mengamini bahwa semua politisi tanpa terkecuali hanya mementingkan dirinya sendiri? Kalau memang demikian, di mana spirit Pancasila yang telah dijelaskan bapak dan ibu guruku di sekolah? Dimanakah  semangat juang para founding fathers yang dengan keringat darahnya membentuk Negara ini menjadi NKRI? Apakah semuanya semuanya telah musnah dipenggal mati? Lantas, kalau memang demikian, apakah memilih untuk tidak memilih adalah suatu pilihan?

Penulis adalah seorang pengembara dalam dunia sastra dan filsafat. Tidak ada karya yang sempurna yang dihasilkannya. Sebab dalam hidup seorang pengembara, pencarian itulah kesempurnaannya, tanpa pernah tahu, sejauh mana ia akan pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar