Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 23 Agustus 2019

Teka-Teki Silang Yang Belum Usai Setelah Semuanya Usai




(Surat ini dipersembahkan kepada masa lalu yang tak kunjung berlalu dari seseorang yang candu akan masa lalu dan berharap semuanya akan berlalu setelah kata “maaf” darinya diterima dengan sukacita).

            Dunia sedang dilandai musim kering. Hawa sejuk dan dingin menampar keras pada pori-pori kulitku hingga perlahan menyusup hingga jantung sampai hati yang merindu suasana yang sama beberapa waktu silam. Tepat pada musim seperti ini, kau hadir waktu itu dengan segala sukacita. Aku menyambutmu dengan sebait puisi cinta, tanpa tahu kalau kau mulai betah entah pada bait puisi ataukah pada hati yang melahirkan puisi itu. Entahlah, aku tidak mempersoalkan itu lagi sebab kita tak lagi mengucapkan salam yang sama kala itu. Kita telah berdiri satu-satu dari kita yang pernah  bersatu. Kita telah lupa pada malam mingguan dan kini kita sebut sebagai sabtu malam. Yang ada padaku sekarang ini hanya mengolok mereka yang masih bermalam mingguan dalam suasana kita yang sepi di sabtu malam ini. Aku mencoba mengalihkan bahasanya dengan tujuan untuk memulihkan semua perasaan yang terjadi di antara kita pada malam mingguan dulu.
Maaf, aku tak tahu lagi harus dengan kata apa aku menjelaskannya. Setelah semua tentang aku, kamu dan buku teka-teki ini tak lagi saling menyapa. Kisah ini bermula saat kita mengatakan “Ya” pada hati yang memikiki perasaan yang sama. Pada waktu itu, kita sepakat untuk menjalin hubungan dalam nada cinta. Lalu, tanpa canggung, kita perkenalkan buku teka-teki ini sebagai perantara di antara kita untuk saling menyapa dan bertanya tentang banyak hal. Sebelumnya, aku ingin berkata bahwa aku pernah bersyukur dengan kehadiranmu dalam kisah ini. Aku, kau perkenalkan dengan banyak hal termasuk mengisi teka-teki ini meski tak pernah tuntas hingga detik ini. Lalu, hingga semua ini berakhir, aku merasa bersalah dan tak mampu menjaga “kita” dan juga telah mengingkar janji bahwa kita akan menuntaskan teka-teki ini.
            Tepat ketika hati kita masih betah dalam nada cinta, kisah ini dimulai. Waktu itu, kita saling berjanji untuk menjaga hati dan menjawab segala tanya yang akan kita hadapi dalam perjalanan hubungan ini. Termasuk aku pada waktu itu, dengan nada yang kuat menyatakan siap untuk menjalani ini dan mengambil semua resiko yang akan kita hadapi. Sebelum aku menunjukmu, mestinya kau juga tahu bahwa kau ikut mengatakan “ya” pada waktu itu. Detik pertemuan itu begitu singkat, hingga hati kita memiliki rutinitas dan profesi yang baru dalam hidup. Sebelumnya, aku hanya mengenal dunia kampusku tanpa ada tanya tentang kau dalam segala hariku. Hadirmu, membawa rutinitas baru bagiku waktu itu. Jujur saja, baru setelah mengenalmu aku mengenal teka-teki silang. Kehadiranmu pada waktu itu membawa aku pada dunia yang baru dan agak rumit karena harus mengisi teka-teki itu di waktu senggang.
            Aku tidak tahu alasanmu pada waktu itu memberi buku TTS itu. Seingatku, TTS itu, kau hadiahkan waktu hari ulang tahunku yang ke-21 tanpa tahu maksudmu apa. Aku sementara mabuk bahagia dengan acara ulang tahunku kala itu, dan tidak menanyakan lebih dalam tentang TTS itu. Jujur saja, yang ada dalam benakku terkait TTS itu adalah bahwa ketika aku berhasil mengerjakan semuanya, itu mengandaikan bahwa aku berhasil menjawab segala tanya yang kau lontarkan kepadaku. Lalu, pada waktu itu kau memintaku untuk mengembalikan TTS bila waktu memihak pada kita untuk saling tatap muka yang pertama kalinya. Hari demi hari, aku meluangkan waktuku untuk mengisi dan berharap bisa menyelesaikannya. Aku bahkan merelakan pekerjaan pokok yang semestinya aku utamakan pada waktu itu demi TTS itu. Hingga, pada suatu kesempatan, aku lelah dan ingin menyerah. Namun, karena kuatnya dukunganmu, aku coba mengingatkanmu dalam setiap kelemahanku dan mencoba untuk bangkit kembali. Aku patut bersyukur untuk itu, sebab tidak semua orang memiliki nasib yang beruntung seperti aku karena kuatnya dukunganmu. Namun, aku berhutang budi padamu, dengan segala kerendahanku, aku minta maaf sebab aku tidak bisa mengisi teka-teki itu sampai tuntas. Aku hanya menyelesaikan bagian mana yang aku bisa, selebihnya, aku kembalikan padamu.
            Hingga sampai pada detik ini, waktu belum memihak pada kita untuk bertemu dan aku telah menyerah untuk melanjutkan teka-teki itu. Kamu marah dan berpaling dariku. Menyibukkan diri dengan rutinitasku sebelumnya adalah caraku untuk menyembunyikan luka karena ketidak sanggupanku. TTS yang engkau berikan itu pun, telah aku tutup dan tak pernah kusentuh lagi. Meski masih banyak yang rumpang dan belum terisi, aku tetap tidak berani menyentuhnya lagi. Sebab, sejak saat kau menutup kisah ini, sejak saat itu pula aku menutupnya rapat-rapat. Aku hanya berharap akan waktu untuk bertemu, meski tidak seperti yang kita janjikan dulu. Jika tiba waktunya, akan aku ceritakan banyak hal dan segudang maafku padamu.
           


Kamis, 15 Agustus 2019

SEJENAK TENTANG JEJAK DI STASI DULI

Salam rindu bagimu semua yang telah hadir dalam ceritaku ini. Aku sempat berpikir bahwa barangkali ini adalah cara terbaik untuk mengabadikan moment  penuh kekeluargaan yang telah saya alami bersama para saudara sekalian di Duli terlebih bagi keluarga di Tanah Merah, KUB Maria Bunda Segala Bangsa. Sekali lagi, saya ingin mengatakan bahwa rindu sulit untuk  didefenisikan dalam penalaran akal budi. Sebab, kerap kali sebuah perasaan tidak dapat diejawantahkan dalam kata- kata dan hanya bisa dirasakan.
Saya memulai kisah ini dari hari pertama saya berada disana sampai akhirnya saya pamit untuk kembali pulang dalam rutinitas dan habitat saya sendiri. Kisah ini berawal dari secangkir teh yang  menyambut selamat datang dan ditutupi dengan secangkir kopi perpisahan. Ya, saya mengatakannya demikian karena memang semenjak saya datang pertama kali, saya disambut dengan secangkir teh hangat buatan kakak saudari di rumah tempat saya tinggal. Jangan tanyakan kenapa bukan secangkir kopi karena memang saya belum memperkenalkan diri kalau saya pecinta kopi. Hehhee... 
Singkat cerita, seusai episod teh hangat,  saya ingin memperkenalkan keluarga kecil saya disana. Mereka adalah kaka Dus, kaka Putri, nenek, adik Egi dan adik Naldo (gengster di rumah sekaligus geng kompleks yang ditakuti oleh kebanyakan teman-temannya). Mereka telah mengisi haei-hari saya disana dan telah memberikan warna baru dalam petualangan ini.
Mereka sangat baik dan menyambut kehadiran saya dengan seadanya mereka. Saya mulai merasakan suasana kehangatan dan kekeluargaan disana ketika sudah mulai memperkenalkan diri kepada mereka. Jujur, saya ingin mengatakan bahwa serasa berada di kediaman sendiri dengan secangkir kopi yang disuguhkan mama di rumah. Suasana rumah itu, kini saya alami disana.
Lalu, apa rutinitas saya disana? Hehehe, tanpa secangkir bumbupun saya ingin mengatakan bahwa benar apa yang disabdakan Tuhan, "Datanglah pada-Ku maka segalanya akan disediakan bagimu." Saya benar-benar merasakan suasana kekeluargaan yang hakiki seperti suasana rumahku sendiri. "Ah, Tuhan! Betapa bahagianya aku berada disini. Kalau Tuhan mau, izinkan aku membangun tiga kemah disini, satu untuk Tuhan, satu untuk keluarga disini dan satunya lagi untuk diriku sendiri."(sahutku dalam hati). 
Hari-hari kami disana selalu diisi dengan canda tawa dan suasana keakraban yang tak bisa tergambarkan dengan cetakan huruf ini. Banyak hal yang saya timba dari sumur dan ladang kehidupan disana termasuk adat dan kebiasaan disana. Lalu, hal apa yang mengundang perasaan rindu itu muncul? Sejak awal kisah saya sudah sampaikan bahwa rindu datang selalu tiada tanpa sebab karena memang, ia hadir pada sesuatu yang berarti dan terlampau pergi. Saya mungkin telah mengatakannya dari awal kisah ini, kalau hal yang sangat mengesankan bagi saya itu adalah suasana keakraban dan ramah-tamah kalian disana.
Tak terhitung singkat cerita 7 hari kami berada disana. Ingatkan saja kalau suasana keramaian, kekeluargaan dan keakraban itu yang sangat mengesankan bagi saya. 
Akhirnya, sebelum saya mengakhiri tulisan ini saya ingin mengisahkan satu hal lagi kalau kisah ini diakhiri dengan secangkir kopi buatan nenek di rumah yang disuguhkan dengan hati yang ikhlas. Kenapa kopi, karena nenek sudah tahu kalau saya jiwa kopi.

Ada rindu dari gubuk Millano buat keluarga, sahabat, dan saudara semua di kampung Tanah Merah, tempat hati menemukan suasana rumah yang jauh disana. Jangan lupa bahagia.😊

Gubuk Millano,15 Agustus 2019
Oleh: Dolin Anang.

Sabtu, 10 Agustus 2019

A Letter for God

We give thanks to you Lord for your blessings to us. Especially for a special moment today. I feel that you answered my prayer and my hope. Thanks God, You had came to me. Bless me always in the all my life especially for my hope and my dream.

Selasa, 06 Agustus 2019

Ruang Baca KaumMilenial: CINTAI DARI MATA HATI BUKAN DARI KEDUA BOLA MATA T...

Ruang Baca KaumMilenial: CINTAI DARI MATA HATI BUKAN DARI KEDUA BOLA MATA T...: lembubelang1998.blogspot.com Jangan pernah bilang kalau kau mencintai karena aku itu kuat dalam menerima luka ataupun karena aku cukup ber...

CINTAI DARI MATA HATI BUKAN DARI KEDUA BOLA MATA TELANJANG

lembubelang1998.blogspot.com
Jangan pernah bilang kalau kau mencintai karena aku itu kuat dalam menerima luka ataupun karena aku cukup berkemampuan. Sebab suatu saat nanti hidupku akan menua dan semua yang kau cintai akan sirna. Jika kau tetap berani mencintaiku dengan alasan demikian, maka kau tak sanggup untuk mencintai dalam segala adaku. Aku mau kau mencintai dalam seluruh hayat tanpa suatu jangka waktu yang ditentukan oleh mampuku.

Aku juga tak mau kau mencintai dengan membanggakan tittle profesi yang aku miliki. Cukup kuingatkan saja kalau dunia itu berputar dan aku tidak tahu entah sampai kapan profesi itu melekat pada diriku. Rahasia alam tak dapat terkira dan aku tak mau kau datang dalam adaku dan pergi begitu saja saat aku mengalami kejatuhan dan tak mampu bangkit kembali. Aku mau kau selalu ada dalam segala hal.

Aku juga tak mau kau berlebihan memuji bisaku. Sebab pada suatu titik jenuh, engkau akan bosan mencintai saat jiwa dan raga tak mampu membuatmu mengagumiku lagi. Ketika kau berani membuka mata untuk melihat kebolehan orang lain, mungkin juga menjadi alasan bagimu untuk beranjak dari kenyamanan bersamaku. Sekali lagi, jangan mengagumiku secara berlebihan. Cukup ucapkan syukur pada Tuhanmu kalau Dia telah memberikan segala ada yang baik untuk kita.

Dengarkan aku baik-baik, kalau kau sedang merasa cinta padaku, tanyakan pada hatimu tentang hal apa yang membuat kau berani jatuh cinta. Jika kau jatuh karena adaku dan bukan karena cinta, pulanglah! Aku siap melepaskan pergimu untuk mendapatkan cinta yang kau harapkan.Satu pintaku, jika memang benar-benar cinta, hendaknya itu datang dari hati yang tulus dan bukan dari bola mata telanjangmu yang melihat adaku pada nampak luarnya dan bukan pada mata hati