Wikipedia

Hasil penelusuran

Minggu, 26 Januari 2020

"Tembras" Dan Mimpi Para Petani di Raci

Gambar Pribadi: Dolin Anang

'Tidak ada yang lebih penting selain ingin bertahan hidup. Itulah alasan jika ditanya mengapa kami masih bertemankan tanah, meski sesekali kami merasa, ini terlampau berat untuk kami jalani. Sawah kami berada jauh dari tempat kami tinggal. Mungkin, jika tidak berlebihan, separuh hidup kami hanya merupakan taruhan untuk berjuang melawan kesengsaraan ini. Akses jalan tani yang belum memadai, mengajarkan kami untuk tetap sabar dan tabah menjalani. Keringat bercucurkan air mata saat hasil panen berlimpah. Kami sedikit bangga dengan perjuangan ini, juga menagis karena harus seperti ini.'
Masa liburan 25 hari yang lalu seakan membawa perasaan ini pada pristiwa beberapa tahun silam. Begitu vulgar untuk menceritakan hebatnya perjuangan melawan getirnya hidup kala itu. Di sisi lain, hati ini seakan tercabik oleh berbagai kepedihan yang dialami. Memikul padi dari sawah sampai ke rumah, membajak sawah menggunakan kerbau, makan apa-adanya, dan banyak hal lain yang masih  terpaut di hati ini.
"Tembras" merupakan area persawahan masyarakat kampung Raci. Letaknya lumayan jauh dari kampung. Selain itu, jalannya terjal dan bertebing. "Tembras" dan area persawahan sekitar merupakan jantung hidup kami. Meski banyak kerikil tajam yang mesti kami lalui, kami tetap setia merawat area persawahan ini. Sebab hanya ini satu-satunya sumber pengharapan kami.
Tebing tinggi yang kami lalui merupakan arena perjuangan kami setiap hari.  Ada banyak isak tangis yang tumpah dari karung-karung padi saat melewati jalan terjal bertebing itu. Hingga tidak heran kalau banyak dari antara kami yang melarikan diri mencari posisi aman dengan cara merantau ke luar wilayah.
 Sungguh, ini sebuah kenyataan gali lubang tutup lubang. Hasil panen kami tidak sebanding dengan segala pergulatan saat merawatnya. Adalah suatu kabar sukacita yang kami sambut 4 tahun lalu, akses jalan tani diperbaiki, meskipun belum maksimal. Setidaknya, ini sebagai pertanda bahwa mimpi-mimpi kami masih hidup di tanah ini. Kisah ini sungguh pilu. Bahkan hati yang pernah merasakan getirnya sungguh merasakan sebuah kepahitan yang mesti ditelan bulat-bulat. Kalau boleh bersenda-gurau, kami boleh katakan, perjuangan kami sebanding dengan salib yang dipikul ke Golgota. Bedanya, kami memikulnya tiap hari tanpa henti.
Sejak saat itu, saya ingin menangis. Tapi apa gunanya? Bukankah setiap hari yang kita lalui dulu selalu terisak tangis? Bertolak dari kenyataan itu, kita mengerti bahwa mimpi kita terkubur di sini, di tanah ini. Kita akan bertumbuh sebagai seorang pecundang, jika tanah ini kita lepas buang percuma. Kita tumbuh memiliki tubuh sekekar ini, berkat juang para pendahulu. Lantas, kepada siapa kita mengadu atas kenyataan ini?
Salam juang buat sahabat semua yang masih merawat kenang di tanah ini.

Tulisan ini hanya merupakan pergolakan batin sang penulis terkait realita yang menyedihkan di tanah yang merdeka ini. Seutuhnya, kami belum merdeka.

Millano, 26' January 2020.
Salam hangat, Dolin Anang.