Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 22 Maret 2019

Wajah Mama Dalam Secangkir Kopi

Karya: Dolin Anang



Pada jendela tua yang berpapasan langsung dengan biara itu, aku kembali menikmati senja sembari menyeruput kopi buatanmu mama. Tiada habisnya aroma kopimu mengisahkan berbagai hal istimewa tentangmu. Hari terus berganti seturut hukum alam yang telah mengaturnya demikian, tapi aku cukup setia menyeruput kopi jerih tanganmu dari hari ke hari. Masih pada senja yang sama, di hari yang berbeda tiada hentinya aku mengagumimu mama. Dalam benakku terbersit, seakan surga yang selalu disabdakan para penceramah itu, telah dan sedang aku alami bersamamu. Hingga pada suatu titik, aku dihadapkan kepada kebingungan. Aku terlalu menyibukkan diri memikirkan surga yang abstrak dan transenden sementara hati tak pernah paham akan surga yang sedari dulu selalu kau suguhkan kepadaku. Bahkan tiada hariku tanpa menyeruput kopi buatanmu, tetapi tetap saja hati ini gelap tentang indahnya cintamu kepadaku. Atau mungkinkah, karena hitamnya kopi yang sering kuteguk, hitamnya menempel pada hati ini sehingga hati terasa tawar untuk menikmati manis di balik hitam pekatnya itu? Atau mungkin aku yang selalu mengandaikan hitam itu pahit tanpa menyadari bahwa dalam kopi hitam itu ada rasa manisnya juga jika dicampur gula.
Mama, mungkin saja telah menjadi sebuah rutinitasmu menyuguhkan kopi kepadaku setiap kali senja datang menyapaku. Kopi yang kau suguhkan itu kunikmati begitu saja tanpa pernah mengetahui hati yang memberi. Aku bahkan tidak pernah peduli akan hal lain selain menikmatinya begitu saja. Ada begitu banyak filosofi tentang kopi yang sering diinterpretasikan oleh kebanyakan orang tetapi aku tidak berani untuk mengatakan apapun tentang kopi buatanmu. Tetapi, sekarang aku tidak tahu mengapa aku berani menceritakan kopi buatanmu saat ini. Mungkin karena kekanak-kanakan telah menua ataukah mungkin karena saatnya telah tepat bagiku untuk mengerti tentang kopi yang mengisyratkan kau di dalamnya. Mama, aroma kopi itu mengisyaratan wangi wajahmu. Ketika orang-orang bertanya kepadaku tentang apa yang kutemukan dalam kopi, sebenarnya aku tidak menemukan apa-apa selain keharumannya yang mengisyaratkan wajah lugumu mama. Ketika orang banyak berusaha menemukan dan menyematkan kata-kata roman tentang filosofi kopi, aku hanya menatap wajahmu di sana. Dalam pekat hitamnya kopi, selalu terkandung pahit dan manisnya rasa. Tapi, di dalam wajahmu yang wangi kopi itu, engkau berusaha untuk menyuguhkan manisnya rasa tanpa tahu bahwa pahitnya kau telan sendiri.
 Aku belum tahu dan bahkan tidak pernah akan tahu tentang hari ketika aku lahir. Aku hanya cukup mengingat tanggal lahir yang terlampir di KTPku hingga saat ini. Tidak ada dalam bayangku, seperti apa wajahmu ketika itu. Banyak orang berceritera kepadaku bahwa kau begitu bangga ketika tangisan perdanaku mulai terngiang di telingamu. Mereka tidak pernah bilang kalau-kalau di pelupuk matamu yang berbinar itu, ada air mata yang tertetes karena beban yang kau pikul. Bahkan, hingga sampai detik ini pun, telingaku tidak pernah terusik dengan keluhanmu tentang engkau yang melahirkan aku. Mama, kalau kau mengizinkan aku untuk bertanya, adakah hatimu mengeluh dan air mata tangisan ketika melahirkan aku? Adakah engkau marah ketika aku berbaring rapi di dalam kediaman agung rahimmu selama selang waktu 9 bulan? Tidak mama, engkau pasti menjawabnya tidak. Sejak saat aku tiba, kau tidak pernah menangis sedikit pun. Sejak saat itu kau bersyukur kepada Tuhan yang telah menitipkan aku melalui rahim kemuliaanmu dan sejak saat itu aku menjadi bagian dari keluarga kita. Engkau bahkan melemparkan senyum dalam kelemahanmu dan menyambut aku dengan hati yang bahagia dan jiwamu bersorak kegirangan. Engkau begitu bergembira menyambut kedatanganku, lalu kau rapalkan doa-doa syukur kepada Tuhan atas hari ysng bahagia itu. Ritual-ritual penjemputan pun kau laksanakan dengan penuh semangat dan kau indahkan hadirku.  Lalu, di antara kita berdua, siapakah yang menangis waktu itu? Aku mama, hanya aku yang menangis waktu itu. Entahkah itu karena hukum alam yang telah mengaturnya demikian ataukaah semuanya itu memberi isyarat bahwa ada salib yang mesti aku pikul dalam hidup ini, seperti yang kualami kini.
Mama, ceritakan padaku, bagaimana mencintai tanpa menuntut kembali. Bagaimana semestinya memberi tanpa perlu menerima seperti yang telah kau lakukan akan daku sedari dulu. Akhirnya mama, ketika banyak orang berusaha memberi alasan tentang mengapa mereka suka kopi, aku hanya tersenyum dan cukup bersyukur, ada wajahmu di balik kopi yang selalu kunikmati setiap waktu. Ada hati yang memberi  tanpa menerima, ada manis yang selalu hadir di balik pahitnya kopi. Ada keluguan dalam rasa yang tak pernah bohong. Ada belas kasihan yang tak kunjung usai dan kasih yang tak pernah padam.

Di antara kopi dan senja, ada mama yang menyuguhkan cinta tak terbanding.

Senin, 18 Maret 2019


Jiwa Puisi
By: Anang98

Siapakah aku yang menamaimu
Membatasi arti dirimu
Kau terlahir dari pergulatan
Antara ada dan hati
Membahasakan jiwa
Menunggang kata tanpa suara
Kau memberi arti pada diri
Mengekspresikan jiwa 
Dengan lugu, jujur, dan tulus
Luka, suka, duka bersua
Kau terlahir dari hati
Tidak untuk diperhatikan
Kau bahasa jiwa
Menyemat makna pada kata


Ruang renung tanpa tentu.