Karya: Dolin Anang
Pada
jendela tua yang berpapasan langsung dengan biara itu, aku kembali menikmati
senja sembari menyeruput kopi buatanmu mama. Tiada habisnya aroma kopimu
mengisahkan berbagai hal istimewa tentangmu. Hari terus berganti seturut hukum alam
yang telah mengaturnya demikian, tapi aku cukup setia menyeruput kopi jerih
tanganmu dari hari ke hari. Masih pada senja yang sama, di hari yang berbeda
tiada hentinya aku mengagumimu mama. Dalam benakku terbersit, seakan surga yang
selalu disabdakan para penceramah itu, telah dan sedang aku alami bersamamu.
Hingga pada suatu titik, aku dihadapkan kepada kebingungan. Aku terlalu
menyibukkan diri memikirkan surga yang abstrak dan transenden sementara hati
tak pernah paham akan surga yang sedari dulu selalu kau suguhkan kepadaku.
Bahkan tiada hariku tanpa menyeruput kopi buatanmu, tetapi tetap saja hati ini
gelap tentang indahnya cintamu kepadaku. Atau mungkinkah, karena hitamnya kopi
yang sering kuteguk, hitamnya menempel pada hati ini sehingga hati terasa tawar
untuk menikmati manis di balik hitam pekatnya itu? Atau mungkin aku yang selalu
mengandaikan hitam itu pahit tanpa menyadari bahwa dalam kopi hitam itu ada
rasa manisnya juga jika dicampur gula.
Mama,
mungkin saja telah menjadi sebuah rutinitasmu menyuguhkan kopi kepadaku setiap
kali senja datang menyapaku. Kopi yang kau suguhkan itu kunikmati begitu saja
tanpa pernah mengetahui hati yang memberi. Aku bahkan tidak pernah peduli akan
hal lain selain menikmatinya begitu saja. Ada begitu banyak filosofi tentang
kopi yang sering diinterpretasikan oleh kebanyakan orang tetapi aku tidak
berani untuk mengatakan apapun tentang kopi buatanmu. Tetapi, sekarang aku
tidak tahu mengapa aku berani menceritakan kopi buatanmu saat ini. Mungkin
karena kekanak-kanakan telah menua ataukah mungkin karena saatnya telah tepat
bagiku untuk mengerti tentang kopi yang mengisyratkan kau di dalamnya. Mama,
aroma kopi itu mengisyaratan wangi wajahmu. Ketika orang-orang bertanya
kepadaku tentang apa yang kutemukan dalam kopi, sebenarnya aku tidak menemukan
apa-apa selain keharumannya yang mengisyaratkan wajah lugumu mama. Ketika orang
banyak berusaha menemukan dan menyematkan kata-kata roman tentang filosofi
kopi, aku hanya menatap wajahmu di sana. Dalam pekat hitamnya kopi, selalu
terkandung pahit dan manisnya rasa. Tapi, di dalam wajahmu yang wangi kopi itu,
engkau berusaha untuk menyuguhkan manisnya rasa tanpa tahu bahwa pahitnya kau
telan sendiri.
Aku belum tahu dan bahkan tidak pernah akan
tahu tentang hari ketika aku lahir. Aku hanya cukup mengingat tanggal lahir
yang terlampir di KTPku hingga saat ini. Tidak ada dalam bayangku, seperti apa
wajahmu ketika itu. Banyak orang berceritera kepadaku bahwa kau begitu bangga
ketika tangisan perdanaku mulai terngiang di telingamu. Mereka tidak pernah
bilang kalau-kalau di pelupuk matamu yang berbinar itu, ada air mata yang
tertetes karena beban yang kau pikul. Bahkan, hingga sampai detik ini pun,
telingaku tidak pernah terusik dengan keluhanmu tentang engkau yang melahirkan
aku. Mama, kalau kau mengizinkan aku untuk bertanya, adakah hatimu mengeluh dan
air mata tangisan ketika melahirkan aku? Adakah engkau marah ketika aku
berbaring rapi di dalam kediaman agung rahimmu selama selang waktu 9 bulan? Tidak
mama, engkau pasti menjawabnya tidak. Sejak saat aku tiba, kau tidak pernah
menangis sedikit pun. Sejak saat itu kau bersyukur kepada Tuhan yang telah
menitipkan aku melalui rahim kemuliaanmu dan sejak saat itu aku menjadi bagian
dari keluarga kita. Engkau bahkan melemparkan senyum dalam kelemahanmu dan
menyambut aku dengan hati yang bahagia dan jiwamu bersorak kegirangan. Engkau
begitu bergembira menyambut kedatanganku, lalu kau rapalkan doa-doa syukur
kepada Tuhan atas hari ysng bahagia itu. Ritual-ritual penjemputan pun kau
laksanakan dengan penuh semangat dan kau indahkan hadirku. Lalu, di antara kita berdua, siapakah yang
menangis waktu itu? Aku mama, hanya aku yang menangis waktu itu. Entahkah itu
karena hukum alam yang telah mengaturnya demikian ataukaah semuanya itu memberi
isyarat bahwa ada salib yang mesti aku pikul dalam hidup ini, seperti yang
kualami kini.
Mama,
ceritakan padaku, bagaimana mencintai tanpa menuntut kembali. Bagaimana
semestinya memberi tanpa perlu menerima seperti yang telah kau lakukan akan
daku sedari dulu. Akhirnya mama, ketika banyak orang berusaha memberi alasan
tentang mengapa mereka suka kopi, aku hanya tersenyum dan cukup bersyukur, ada
wajahmu di balik kopi yang selalu kunikmati setiap waktu. Ada hati yang
memberi tanpa menerima, ada manis yang
selalu hadir di balik pahitnya kopi. Ada keluguan dalam rasa yang tak pernah
bohong. Ada belas kasihan yang tak kunjung usai dan kasih yang tak pernah padam.
Di antara kopi dan senja, ada mama yang menyuguhkan cinta tak terbanding.




