Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 08 Oktober 2019

Kami Rindu

Setiap jengkal detik hidup kami
Ada harap dan doa atas kemelaratan ini
Kami merindukan seorang dewi
Menerbangkan mimpi 

Dari sebuah keterjajahan
Kami rindu kemenangan
Dari sebuah ketertindasan
Kami rindu kebebasan

Kami rindu pada sebuah kejayaan
Menatap hidup penuh kegirangan
Hentikan semua keserakahan
Demi sebuah kemakmuran

Kami rindu hidup
Sekali saja nafas lega kami hirup
Kami rindu kejayaan
Pada sebuah harapan

Millano, 00:25. Okt, 08'019
Tegakkan demokrasi.






Senin, 30 September 2019

Barang Kali

Gambar: Dokumen pribadi Dolin Anang

Barang kali,
Pisah adalah temu
Laksana september lalu
Menjemput Oktober kali ini
Kita, tidak benar-benar pisah
Juga tidak benar-benar temu
Di depan telanjangnya bola mata

Aku mencintaiMu samar-samar
Sedang Kau menelanjangi diri
Mencintaiku penuh hati

Barang kali, Engkau juga tahu,
Kalau separuh hembus berkatMu
Adalah nafasku tiap hitungan detik
Aku tidak benar-benar baik
Tanpa mencintaiMu baik-baik

Barang kali, Engkau lebih tahu
Tentang ketidaktahuanku
Aku ingin tahu,
Meski membuka tali kasutmu pun aku tak layak,
Biarkan aku merobek tasbih kebenaranMu
Biar aku tahu,
Kalau aku tak tahu apa-apa

(Kelas filsafat, 0kt'01'019).




Jangan Begitu

Gambar: Dokumen pribadi Dolin Anang (lembubelang'98).

Kita pernah bersumpah
Pada segumpal darah
Meniti juang bersama
Tanpa menciptakan luka

Jangan begitu,
Kau mulai tinggalkan kita
Menepuk dada bangga
Pada pencapaian ini
Bukankah jejak ini
Adalah bukti
Bahwa kau tak pernah
Melangkah sendiri

Jangan begitu,
Kau mulai mulia diri
Mencoba melawan kenang
Ingatlah,
Pada pundak mana
Kau meraih kemenangan
Aku harap, kau kembali
Pada ingatan itu,
Menangis bersama bayangmu
Menceritakan dukamu
Dan kami, akan menanti
Saat kau sudah kembali.

(Gubuk reot' sept-30'019).







Jumat, 20 September 2019

Mencari Jejak Yang Hilang


Gambar: Dokumen pribadi Anang98
Bersama dewi malam
Menghirup kedinginan kota
Mencari jejak di penghujung harap
Yang hilang ditelan kelaliman
Bersua dengan kunang-kunang malam
Menepi diri yang hilang dalam kebingungan
Memohon suaka dari Sang Kekal
Ampuni aku Elohim

By: Anang98
Ruang renung San Camil0

Jumat, 23 Agustus 2019

Teka-Teki Silang Yang Belum Usai Setelah Semuanya Usai




(Surat ini dipersembahkan kepada masa lalu yang tak kunjung berlalu dari seseorang yang candu akan masa lalu dan berharap semuanya akan berlalu setelah kata “maaf” darinya diterima dengan sukacita).

            Dunia sedang dilandai musim kering. Hawa sejuk dan dingin menampar keras pada pori-pori kulitku hingga perlahan menyusup hingga jantung sampai hati yang merindu suasana yang sama beberapa waktu silam. Tepat pada musim seperti ini, kau hadir waktu itu dengan segala sukacita. Aku menyambutmu dengan sebait puisi cinta, tanpa tahu kalau kau mulai betah entah pada bait puisi ataukah pada hati yang melahirkan puisi itu. Entahlah, aku tidak mempersoalkan itu lagi sebab kita tak lagi mengucapkan salam yang sama kala itu. Kita telah berdiri satu-satu dari kita yang pernah  bersatu. Kita telah lupa pada malam mingguan dan kini kita sebut sebagai sabtu malam. Yang ada padaku sekarang ini hanya mengolok mereka yang masih bermalam mingguan dalam suasana kita yang sepi di sabtu malam ini. Aku mencoba mengalihkan bahasanya dengan tujuan untuk memulihkan semua perasaan yang terjadi di antara kita pada malam mingguan dulu.
Maaf, aku tak tahu lagi harus dengan kata apa aku menjelaskannya. Setelah semua tentang aku, kamu dan buku teka-teki ini tak lagi saling menyapa. Kisah ini bermula saat kita mengatakan “Ya” pada hati yang memikiki perasaan yang sama. Pada waktu itu, kita sepakat untuk menjalin hubungan dalam nada cinta. Lalu, tanpa canggung, kita perkenalkan buku teka-teki ini sebagai perantara di antara kita untuk saling menyapa dan bertanya tentang banyak hal. Sebelumnya, aku ingin berkata bahwa aku pernah bersyukur dengan kehadiranmu dalam kisah ini. Aku, kau perkenalkan dengan banyak hal termasuk mengisi teka-teki ini meski tak pernah tuntas hingga detik ini. Lalu, hingga semua ini berakhir, aku merasa bersalah dan tak mampu menjaga “kita” dan juga telah mengingkar janji bahwa kita akan menuntaskan teka-teki ini.
            Tepat ketika hati kita masih betah dalam nada cinta, kisah ini dimulai. Waktu itu, kita saling berjanji untuk menjaga hati dan menjawab segala tanya yang akan kita hadapi dalam perjalanan hubungan ini. Termasuk aku pada waktu itu, dengan nada yang kuat menyatakan siap untuk menjalani ini dan mengambil semua resiko yang akan kita hadapi. Sebelum aku menunjukmu, mestinya kau juga tahu bahwa kau ikut mengatakan “ya” pada waktu itu. Detik pertemuan itu begitu singkat, hingga hati kita memiliki rutinitas dan profesi yang baru dalam hidup. Sebelumnya, aku hanya mengenal dunia kampusku tanpa ada tanya tentang kau dalam segala hariku. Hadirmu, membawa rutinitas baru bagiku waktu itu. Jujur saja, baru setelah mengenalmu aku mengenal teka-teki silang. Kehadiranmu pada waktu itu membawa aku pada dunia yang baru dan agak rumit karena harus mengisi teka-teki itu di waktu senggang.
            Aku tidak tahu alasanmu pada waktu itu memberi buku TTS itu. Seingatku, TTS itu, kau hadiahkan waktu hari ulang tahunku yang ke-21 tanpa tahu maksudmu apa. Aku sementara mabuk bahagia dengan acara ulang tahunku kala itu, dan tidak menanyakan lebih dalam tentang TTS itu. Jujur saja, yang ada dalam benakku terkait TTS itu adalah bahwa ketika aku berhasil mengerjakan semuanya, itu mengandaikan bahwa aku berhasil menjawab segala tanya yang kau lontarkan kepadaku. Lalu, pada waktu itu kau memintaku untuk mengembalikan TTS bila waktu memihak pada kita untuk saling tatap muka yang pertama kalinya. Hari demi hari, aku meluangkan waktuku untuk mengisi dan berharap bisa menyelesaikannya. Aku bahkan merelakan pekerjaan pokok yang semestinya aku utamakan pada waktu itu demi TTS itu. Hingga, pada suatu kesempatan, aku lelah dan ingin menyerah. Namun, karena kuatnya dukunganmu, aku coba mengingatkanmu dalam setiap kelemahanku dan mencoba untuk bangkit kembali. Aku patut bersyukur untuk itu, sebab tidak semua orang memiliki nasib yang beruntung seperti aku karena kuatnya dukunganmu. Namun, aku berhutang budi padamu, dengan segala kerendahanku, aku minta maaf sebab aku tidak bisa mengisi teka-teki itu sampai tuntas. Aku hanya menyelesaikan bagian mana yang aku bisa, selebihnya, aku kembalikan padamu.
            Hingga sampai pada detik ini, waktu belum memihak pada kita untuk bertemu dan aku telah menyerah untuk melanjutkan teka-teki itu. Kamu marah dan berpaling dariku. Menyibukkan diri dengan rutinitasku sebelumnya adalah caraku untuk menyembunyikan luka karena ketidak sanggupanku. TTS yang engkau berikan itu pun, telah aku tutup dan tak pernah kusentuh lagi. Meski masih banyak yang rumpang dan belum terisi, aku tetap tidak berani menyentuhnya lagi. Sebab, sejak saat kau menutup kisah ini, sejak saat itu pula aku menutupnya rapat-rapat. Aku hanya berharap akan waktu untuk bertemu, meski tidak seperti yang kita janjikan dulu. Jika tiba waktunya, akan aku ceritakan banyak hal dan segudang maafku padamu.
           


Kamis, 15 Agustus 2019

SEJENAK TENTANG JEJAK DI STASI DULI

Salam rindu bagimu semua yang telah hadir dalam ceritaku ini. Aku sempat berpikir bahwa barangkali ini adalah cara terbaik untuk mengabadikan moment  penuh kekeluargaan yang telah saya alami bersama para saudara sekalian di Duli terlebih bagi keluarga di Tanah Merah, KUB Maria Bunda Segala Bangsa. Sekali lagi, saya ingin mengatakan bahwa rindu sulit untuk  didefenisikan dalam penalaran akal budi. Sebab, kerap kali sebuah perasaan tidak dapat diejawantahkan dalam kata- kata dan hanya bisa dirasakan.
Saya memulai kisah ini dari hari pertama saya berada disana sampai akhirnya saya pamit untuk kembali pulang dalam rutinitas dan habitat saya sendiri. Kisah ini berawal dari secangkir teh yang  menyambut selamat datang dan ditutupi dengan secangkir kopi perpisahan. Ya, saya mengatakannya demikian karena memang semenjak saya datang pertama kali, saya disambut dengan secangkir teh hangat buatan kakak saudari di rumah tempat saya tinggal. Jangan tanyakan kenapa bukan secangkir kopi karena memang saya belum memperkenalkan diri kalau saya pecinta kopi. Hehhee... 
Singkat cerita, seusai episod teh hangat,  saya ingin memperkenalkan keluarga kecil saya disana. Mereka adalah kaka Dus, kaka Putri, nenek, adik Egi dan adik Naldo (gengster di rumah sekaligus geng kompleks yang ditakuti oleh kebanyakan teman-temannya). Mereka telah mengisi haei-hari saya disana dan telah memberikan warna baru dalam petualangan ini.
Mereka sangat baik dan menyambut kehadiran saya dengan seadanya mereka. Saya mulai merasakan suasana kehangatan dan kekeluargaan disana ketika sudah mulai memperkenalkan diri kepada mereka. Jujur, saya ingin mengatakan bahwa serasa berada di kediaman sendiri dengan secangkir kopi yang disuguhkan mama di rumah. Suasana rumah itu, kini saya alami disana.
Lalu, apa rutinitas saya disana? Hehehe, tanpa secangkir bumbupun saya ingin mengatakan bahwa benar apa yang disabdakan Tuhan, "Datanglah pada-Ku maka segalanya akan disediakan bagimu." Saya benar-benar merasakan suasana kekeluargaan yang hakiki seperti suasana rumahku sendiri. "Ah, Tuhan! Betapa bahagianya aku berada disini. Kalau Tuhan mau, izinkan aku membangun tiga kemah disini, satu untuk Tuhan, satu untuk keluarga disini dan satunya lagi untuk diriku sendiri."(sahutku dalam hati). 
Hari-hari kami disana selalu diisi dengan canda tawa dan suasana keakraban yang tak bisa tergambarkan dengan cetakan huruf ini. Banyak hal yang saya timba dari sumur dan ladang kehidupan disana termasuk adat dan kebiasaan disana. Lalu, hal apa yang mengundang perasaan rindu itu muncul? Sejak awal kisah saya sudah sampaikan bahwa rindu datang selalu tiada tanpa sebab karena memang, ia hadir pada sesuatu yang berarti dan terlampau pergi. Saya mungkin telah mengatakannya dari awal kisah ini, kalau hal yang sangat mengesankan bagi saya itu adalah suasana keakraban dan ramah-tamah kalian disana.
Tak terhitung singkat cerita 7 hari kami berada disana. Ingatkan saja kalau suasana keramaian, kekeluargaan dan keakraban itu yang sangat mengesankan bagi saya. 
Akhirnya, sebelum saya mengakhiri tulisan ini saya ingin mengisahkan satu hal lagi kalau kisah ini diakhiri dengan secangkir kopi buatan nenek di rumah yang disuguhkan dengan hati yang ikhlas. Kenapa kopi, karena nenek sudah tahu kalau saya jiwa kopi.

Ada rindu dari gubuk Millano buat keluarga, sahabat, dan saudara semua di kampung Tanah Merah, tempat hati menemukan suasana rumah yang jauh disana. Jangan lupa bahagia.😊

Gubuk Millano,15 Agustus 2019
Oleh: Dolin Anang.

Sabtu, 10 Agustus 2019

A Letter for God

We give thanks to you Lord for your blessings to us. Especially for a special moment today. I feel that you answered my prayer and my hope. Thanks God, You had came to me. Bless me always in the all my life especially for my hope and my dream.

Selasa, 06 Agustus 2019

Ruang Baca KaumMilenial: CINTAI DARI MATA HATI BUKAN DARI KEDUA BOLA MATA T...

Ruang Baca KaumMilenial: CINTAI DARI MATA HATI BUKAN DARI KEDUA BOLA MATA T...: lembubelang1998.blogspot.com Jangan pernah bilang kalau kau mencintai karena aku itu kuat dalam menerima luka ataupun karena aku cukup ber...

CINTAI DARI MATA HATI BUKAN DARI KEDUA BOLA MATA TELANJANG

lembubelang1998.blogspot.com
Jangan pernah bilang kalau kau mencintai karena aku itu kuat dalam menerima luka ataupun karena aku cukup berkemampuan. Sebab suatu saat nanti hidupku akan menua dan semua yang kau cintai akan sirna. Jika kau tetap berani mencintaiku dengan alasan demikian, maka kau tak sanggup untuk mencintai dalam segala adaku. Aku mau kau mencintai dalam seluruh hayat tanpa suatu jangka waktu yang ditentukan oleh mampuku.

Aku juga tak mau kau mencintai dengan membanggakan tittle profesi yang aku miliki. Cukup kuingatkan saja kalau dunia itu berputar dan aku tidak tahu entah sampai kapan profesi itu melekat pada diriku. Rahasia alam tak dapat terkira dan aku tak mau kau datang dalam adaku dan pergi begitu saja saat aku mengalami kejatuhan dan tak mampu bangkit kembali. Aku mau kau selalu ada dalam segala hal.

Aku juga tak mau kau berlebihan memuji bisaku. Sebab pada suatu titik jenuh, engkau akan bosan mencintai saat jiwa dan raga tak mampu membuatmu mengagumiku lagi. Ketika kau berani membuka mata untuk melihat kebolehan orang lain, mungkin juga menjadi alasan bagimu untuk beranjak dari kenyamanan bersamaku. Sekali lagi, jangan mengagumiku secara berlebihan. Cukup ucapkan syukur pada Tuhanmu kalau Dia telah memberikan segala ada yang baik untuk kita.

Dengarkan aku baik-baik, kalau kau sedang merasa cinta padaku, tanyakan pada hatimu tentang hal apa yang membuat kau berani jatuh cinta. Jika kau jatuh karena adaku dan bukan karena cinta, pulanglah! Aku siap melepaskan pergimu untuk mendapatkan cinta yang kau harapkan.Satu pintaku, jika memang benar-benar cinta, hendaknya itu datang dari hati yang tulus dan bukan dari bola mata telanjangmu yang melihat adaku pada nampak luarnya dan bukan pada mata hati

Minggu, 14 Juli 2019

AIR TERJUN PANGKA DARI:KEINDAHAN SURGAWI YANG MEMBUMI

Gambar: Dokumen Pribadi Dolin Anang

Oleh: Dolin Anang


Segala sesuatu yang transenden, rupanya sulit dibahasakan secara sederhana dalam kehidupan nyata. Jika kita bertanya apa penyebabnya, maka kita akan terperangkap dalam golongan para pemikir yang tak kunjung usai dan tidak menemukan jawaban yang pasti. Demikianlah kiranya dengan destinasi wisata air terjun yang satu ini. Sebagian orang mungkin pernah mengujungi tempat ini dan pernah mengucap syukur kepada Tuhan saat melihatnya dengan bola mata telanjang. Bagi sebagian orang lagi, yang memadangnya dari kejauhan atau dalam channel youtube saja, mungkin akan mengalami keraguan dan kecurigaan bahwa apa yang mereka lihat adalah hasil editan. Tidak ada salahnya juga, sebab keelokan dan lekukan tubuh air terjun ini serupa lukisan yang dibuat secara hati-hati oleh pelukisnya. Namun menjadi sesuatu yang sangat disayangkan ketika testimoni itu mulai menyebar dan akan menjelma menjadi sesuatu yang benar padahal mengada-ada. Jika kita berbuat demikian, maka Tuhan kita curigai melalui keindahan ciptaan-Nya.
Air terjun "Pangka Dari" merupakan satu-satunya destinasi wisata air terjun di desa Wae Codi, kecamatan Cibal Barat, kabupaten Manggarai. Pada mulanya, hanya sedikit orang yang berani mengunjungi tempat ini. Hal ini karena masyarakat di daerah setempat beranggapan bahwa tempat ini merupakan tempat yang sakral dan mengerikan. Konon ceritanya, tempat ini merupakan tempat untuk mandi dan menjemur diri bagi para bidadari. Mitos ini menjadi sesuatu yang benar dan memiliki alasan yang kuat ketika hal itu dicocokkan dengan anggapan orang Manggarai tentang pelangi. Kepercayaan orang Manggarai dulu, dimana ada pelangi, maka bidadari pasti berada di situ juga. Hal ini sangat mempengaruhi masyarakat setempat dan enggan untuk memasuki wilayah air terjun ini karena ketika matahari sedang merayu untuk mengecup kening serpihan air terjun tersebut, pelangi perlahan menampilkan dirinya yang elok. Mitos inilah yang melekat pada diri masyarakat setempat.  Anggapan itu perlahan memudar ketika beberapa orang pengelana idiot dari daerah setempat memberanikan diri untuk membongkar anggapan tersebut dan membabtis tempat itu menjadi tempat pariwisata yang akhir-akhir ini banyak orang mulai jatuh cinta padanya. Bahkan tidk ada alasan yang tepat untuk merasa cemburu, sebab tempat ini memang memiliki aura yang berbeda dengan destinasi wisata di tempat lain.

Air terjun "Pangka Dari" yang masih anak dara (alamiah) ini, memiliki Medan yang lumayan tebing, memacu adrenalin bagi para wisatawan yang ingin mencicipi keelokannya. Airnya yang dingin dan segar, menjadi pelepas kelelahan saat memasukinya. Lumut-lumut bergantungan yang memayungi gua-gua, terlihat seolah lukisan ala Eropa yang memanjakan mata. Selain menikmati kesegaran dan keindahan air terjun, para wisatawan dapat merehatkan mata memenadang daerah persawahan di sebelah kanannya, dan tidak lupa mengantongi syukur ketika menolah "Wae Bahi" di sebelah kirinya. Di tempat ini, para pengunjung akan tahu, kalau Tuhan itu indah dan secara tidak langsung akan memandang Tuhan secara dekat. Mengapa demikian? Karena di tempat ini anda akan merasakan suasana surgawi yang membumi.

Anda masih belum percaya? Tunggu apa lagi, manfaatkan masa liburanmu untuk bercinta dengannya.

Selasa, 09 Juli 2019

MENILIK NILAI KEINDAHAN DAN KESENIAN KAIN ADAT SONGKE DALAM KEBUDAYAAN MANGGARAI

                                                           Oleh: Dolin Anang


 Pengantar: Kaum muda membaca realitas
            Segala sesuatu pasti memiliki makna dan nilai keindahan dalam dirinya sendiri. Nilai keindahan pada sesuatu  itu akan tampak jelas diketahui jika manusia sebagai penikmat seni mampu menyelami dan menemukan nilai keindahan itu pada suatu barang apa pun. Pada barang ciptaan, tentu nilai keindahan itu diciptakan oleh manusia sendiri sabagai pencipta seni. Bagaimana ia melukiskan sesuatu dan memaknai sesuatu itu dalam barang ciptaannya. Dari kesenian itulah muncul nilai keindahan yang dapat dinikmati oleh banyak orang sebagai penikmat seni.
            Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam suatu sisi membawa manusia kepada kehidupan yang serba modern seperti hidup serba instan. Namun, jika ditelisik dari sudut pelestarian budaya, perkembangan ini justru menyenangkan manusia yang barangkali berdampak pada kelunturan bahkan kehilangan nila-nilai budaya masyarakat setempat yang telah lama hidup sebelumnya. Bahkan yang lebih memprihatinkan adalah praktek kebudayaan atau pun hasil kebudayaan itu hanya dilihat sebagai sesuatu yang begitu-begitu saja atau dianggap sebagai ritual semata tanpa pernah menyelami nilai yang terkandung di dalamnya.
Berlatar pada realitas ini, penulis mencoba menilik suatu nilai keindahan yang terdapat dalam salah satu hasil kebudayaan orang Manggarai yaitu pada kain adat songke orang Manggarai sendiri. Selain daripada itu, barangkali makna dan nilainya masih bersifat kabur bagi kebanyakan orang, baik bagi orang Manggarai sendiri maupun bagi orang luar yang ingin mengenal dan mengetahui nilai keindahan dalam kain songke orang Manggarai.


Mengenal Kain Adat Songke Orang Manggarai dan Aneka Motif di Dalamnya
            Kain songke merupakan suatu bentuk hasil karya seni orang Manggarai dalam bentuk tenunan ikat yang syarat nilai dan simbol. Nilai-nilai yang terkandung  dalam kain songke, biasa ditemukan dalam warna kain dan pada motif-motif kain tersebut. Berikut ini akan dipaparkan beberapa motif pada kain songke yang lazim digunakan, serta makna dalam setiap motif yang dirajut di dalamnya, sebagaimana terdapat dalam buku “kebudayaan manggarai sebagai salah satu khasanah kebudayaan nasional” karya (Drs. Anthony Bagul Dagur: 1998).
·      Warna dasar Hitam
Adalah warna kebesaran/ keagungan orang Manggarai. Warna dasar hitam melambangkan kepasrahan karena sikap tanatos yaitu bahwa kehidupan adalah prosesi dari Allah menuju Allah. Oleh karena itu, dalam upacara kematian orang Manggarai, orang yang meninggal itu dibungkus atau diselimuti oleh kain adat songke itu sendiri sebagai lambang keberakhiran. Bukan hanya pada warna dasar hitam, Aneka motif bunga pada kain songke juga mengandung banyak makna sesuai motif itu sendiri seperti beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
·         Motif Jok
Yaitu motif dasar yang unik sebagai salah satu jati diri budaya Manggarai. Jok melambangkan persatuan baik persatuan menuju Allah (Mori Jari Dedek) penguasa alam semesta, maupun persatuan dengan sesama manusia dengan alam sekitarnya. Jok terkait erat dengan bentuk atap rumah adat Manggarai dan model “Lodok Langang” (kebun komunal).[1]

·         Motif Wela Kaweng
Bentuk motif ini diambil dari tumbuhan bunga kaweng yang banyak tumbuh di wilayah Manggarai. Motif ini bermakna interdependensi antara manusia dengan alam sekitarnya. Tumbuhan kaweng baik daunnya maupun bunganya untuk dijadikan bahan pengobatan luka dari hewan piaraan/ternak. Motif ini mengajarkan kita bahwa alam flora menunjang kehidupan manusia, baik sebagai makanan dan perumahan maupun untuk pengobatan; oleh karena itu, lestarikan alam lingkungan.

·         Bunga songke bermotif Ranggong (Laba-laba)
Laba-laba tekun membuat jaringan dan motif ini bersimbol kejujuran dan kerja keras /cermat. Diyakini dan disadari, bahwa laba-laba tidak pernah mencuri atau cari gampang sepeti tikus. Melalui motif ranggong yang syarat makna ini, orang Manggarai selalu diingatkan untuk senantiasa bekerja keras, cermat dan jujur, sehingga beroleh rezeki dari ketekunan bekerja secara cermat dan jujur. Hanya dengan kejujuran orang hidup tenang, tidak diburu seperti tikus.
·         Motif Su’i (garis-garis batas)
Melambangkan keberakhiran segala sesuatu. Bahwa segala sesuatu ada akhirnya, ada batasnya. Makna motif ini juga sering ditemukan dalam ungkapan orang Manggarai, seperti “par awo, kolep sale”. Artinya bahwa matahari itu terbit di timur dan pasti akan tenggelam di bagian barat. Seperti itu pula hidup manusia, ada awal, tentu ada akhirnya. Motif ini menggambarkan eksistensi manusia yang terbatas.
·         Motif Ntala (Bintang)
Motif ini terkait erat dengan harapan yang sering dikumandangkan dalam Tudak (doa) seperti: Porong langkas haeng ntala (supaya senantiasa tinggi sampai di bintang). Maksudnya, supaya senantiasa hidu sehat, memiliki umur yang panjang dan juga memiliki pengaruh yang lebih dari orang lain dalam hal membawa terang perubahan. Motif ini menggambarkan cita-cita dan harapan orang Manggarai yaitu memperoleh kebaikan dan kesehatan yang cukup.
Masih terdapat banyak motif dalam kain songke, namun motif di atas merupakan motif yang lazim digunakan hingga sekarang.
Keindahan yang terpahat dalam Kain songke
Kain songke orang Manggarai memiliki nilai  keindahan dan kesenian yang amat luhur. Orang manggarai mampu melukiskan nilai kehidupan mereka dalam kain adat ini. Keindahan kain songke ini terpahat jelas dalam perpaduan multi motif di dalamnya. Motif ini disusun sedemikian rupa sehingga memancarkan nilai keindahan yang khas dan juga memuat aneka ragam makna dan simbol. Meski tidak memiliki referensi yang jelas terkait kapan dan darimana terbentuknya motif-motif tersebut, namun perlu diakui bahwa dalam kain songke ini, orang Manggarai mampu merumuskan dan menggambarkan nilai hidup yang perlu mereka perjuangkan dalam keseharian mereka.
Seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa dalam setiap motif yang dipakai dalam kain songke memiliki syarat makna, karena itu, mesti diakui bahwa orang Manggarai memiliki imajinasi kreatif dan kesenian yang amat tinggi. Mereka mampu menggambarkan kehidupan mereka dalam aneka motif yang terdapat dalam kain songke yang sekarang banyak dinikmati dan diminati oleh banyak orang, baik dalam lingkup reginal, nasional maupun internasional.