Wikipedia

Hasil penelusuran

Minggu, 13 Juni 2021

Aku Padamu.

 

Jika mencintaimu adalah luka yang disengaja, 

Maka kuharapkan hadirmu jadi bahagia yang tak terkira

Sebab bukankah setiap syukur harus lebih dulu menjadi luluh? 

Setiap suka harus pula menjadi luka? 




Senin, 07 Juni 2021

Biadadari Berselendang Biang Lala


 Yang menyala 
di tengah hujan dan badai
Kehidupan di tengah kematian
Kekuatan di kala lemah dan tak berdaya
 _
Yang mengulurkan tangan
Di tengah ketiadaan pegangan
Kaki yang tetap kokoh berdiri 
Meski beralas kerikil, api dan beling.
_
Yang memiliki hati luas tak bertepi
Cinta yang dalam tak terajuk, 

_Itu mama. 

Sekali pun aku belajar berbagai bentuk defenisi, 
Namun tentang mama, tak'an bisa kubahasakan secara tuntas. 
Hatimu sungguh luas tak bertepi. 








Kamis, 03 Juni 2021

Hidup Hanya Sebuah Perjuangan Menjemput Sejumput Rasa Aman

 


Orang menikah, bekerja seharian, berolahraga, bernyanyi, sekolah, mengajar, menjahit dan sebagainya merupakan bentuk pergulatan setiap manusia untuk bisa bertahan hidup. Lebih dari itu, semua itu merupakan perjuangan kita untuk menjemput sejumput rasa aman.

 Kematian, segala bentuk rasa sakit, terluka, dihina, tidak dihargai, dipandang sebelah mata dan semacamnya tentu tidak diinginkan setiap manusia. Untuk itulah kita berjuang dan berusaha. Yang paling jujur, tidak ada satu pun di antara semua manusia yang ingin menderita dan bertahan dalam luka. Semua itu hanyalah buaian kita agar tetap terlihat tegar dalam setiap perkara dan persoalan hidup kita. 

Semua kita hanya berjuang menghapus luka. Meski demikian, kita tidak dapat mengelak bahwa kita harus terluka untuk mencapai kenyamanan itu. Terkadang kita hanya menipu diri sendiri dengan mengatakan bahwa kita harus keluar dari zona nyaman untuk mencapai suatu kebebasan sejati. Logikanya, kalau kita merasa sudah nyaman, berarti kita sudah bebas. Untuk apa lagi kita mencari kebebasan itu? Sebab tidak ada zona nyaman yang mengandung luka. Justru karena kita merasa bahwa kita berada dalam tekanan yang mencekam yang kita sebut zona nyaman itu, makanya kita berusaha keluar dari zona itu dan berusaha menemukan jalan yang kita harapkan dapat mencapai suatu kebebasan yang hakiki yaitu suatu kebahagiaan. 

Konsep kebahagiaan terlalu luas dan setiap orang punya defenisi tentang kebahagiaannya sendiri-sendiri. Karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa  dengan profesi dan status yang tinggi, itulah kebahagiaan. Petani yang sederhana, yang pergi pagi pulang sore boleh jadi adalah yang bahagia dari mereka yang menjabat di suatu perusahaan. Sebab kerap kali, jabatan yang kita peroleh bukan sesuatu yang kita inginkan. Lalu apa hakikat dari kebahagiaan itu? 

Kebahagiaan bukan terletak pada suatu pencapaian melainkan pada suatu keputusan dan pilihan sadar kita akan sesuatu yang kita impikan. Itulah alasan kenapa kita rela bertahan dalam luka dan derita, karena kita sadar bahwa kita telah memimpikan sesuatu yang ingin kita capai dari semua itu. Apa artinya sebuah kesuksesan dan pencapaian jika hal itu bukan kemauan dan keinginan kita? Itu hanya akan menjadi sebuah duri dan derita yang kita ciptakan sendiri dalam perjalanan hidup kita.

Jadilah manusia merdeka, yang berani mengambil keputusan dan menentukan pilihan. Sebab sejatinya kenyamanan dan kebahagiaan itu merupakan sesuatu yang akan kita ciptakan sendiri tanpa desakan dan tekanan dari oramg lain. 



Rabu, 10 Februari 2021

Menjelang Pilkades: Memelihara Demokrasi atau Menjadi “Demos Crazy”?

 

Sejak tanggal 17 Agustus tahun 1945, Indonesia secara resmi menyatakan kemerdekaannya. Sebagai bangsa yang merdeka, pemerintah negara Indonesia harus mampu menjamin kemerdekaan tersebut bagi semua warganya. Misalnya, kemerdekaan berpikir, berkumpul, menyatakan pendapat dan sebagainya. Hal ini tentu merupakan suatu bentuk apresiasi terhadap para pendahulu bangsa ini yang telah dengan berani menumpahkan darahnya demi kemerdekaan bangsa ini. Sebagai warga negara Indonesia yang hidup di abad ke-21 ini, penulis patut memberikan hormat kepada para pahlawan bangsa yang telah berjuang demi kemerdekaan bangsa. 

Sebagai generasi penerus yang hidup pada zaman ini, manusia Indonesia sepatutnya terus memperjuangkan kemerdekaan dan menjunjung tinggi nilai demokrasi yang telah dicetuskan para pendahulu bangsa. Naasnya pada saat ini, demokrasi sering kali dikebiri demi kepentingan elit atau kelompok tertentu. Dalam istilah yang dipakai penulis, ini disebut dengan sikap Demos¬_Crazy. demokrasi dan Demos_Crazy memiliki sebutan yang hampir serupa, namun memiliki arti yang berbeda. Demokrasi pada hakikatnya merupakan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Selama masa kampanye pemilihan umum (Pemilu), nilai demokrasi ini seringkali tidak diperhatikan oleh karena setiap anggota masyarakat hidup dalam kubu-kubu pendukungnya sendiri-sendiri, sehingga yang terjadi adalah sistem pengkotak-kotakan. Hal ini wajar dalam dunia politik, namun menjadi rumit ketika sistem pengkotak-kotakan tersebut menjadi ajang perpecahan warga dalam suatu kehidupan bermasyarakat. Istilah Demos_Crazy yang dipakai penulis memiliki arti yang berlawanan dengan nilai demokrasi. Demos sendiri berarti publik, warga atau masyarakat. Sementara Crazy merupakan istilah bahasa Inggris yang berarti gila dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, Demos_Crazy berarti warga yang gila. Dalam konteks kampanya Pilkades, penulis melihat bahwa tidak sedikit orang terjatuh dalam istilah Demos_Crazy tersebut. Orang tidak lagi menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, intoleran terhadap sesama atau bahkan lawan politik dianggap sebagai obyek yang harus disingkirkan, sehingga yang muncul adalah perpecahan di antara warga negara.

Dalam pembahasan terdahulu, penulis telah menegaskan bahwa pertarungan politik sebenarnya hal yang wajar. Namun, hal yang menjadi sorotan penulis adalah bahwa tujuan dari pesta pemilihan umum (pemilu) atau pun pemilihan kepala desa (Pilkades) itu sendiri tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperjuangkan keadilan, kesatuan dan kesejahteraan masyarakat seutuhnya. Oleh karena itu, penulis beranggapan bahwa sesuatu yang keliru jika untuk memenangkan pemilu dengan cara-cara yang tidak berkenan, seperti menyebarkan kebencian, hujatan, caci maki atau bahkan sampai adu jotos antar sesama warga. Hal itu tidak dibenarkan dalam negara demokrasi seperti Indonesia. Menjadi pendukung boleh saja, memilih pemimpin ideal juga merupakan hak setiap warga. Itu hak istimewa sebagai warga negara yang merdeka. Tetapi kemerdekaan satu orang, hendaknya tidak melampaui kemerdekaan orang lain. itulah batas kemerdekaan setiap orang. Dengan kata lain, pilihan boleh berbeda, namun kita mesti tetap satu sebagai warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi nilai persatuan, demokrasi dan toleransi. Poinnya adalah sebagai warga negara yang baik, setiap manusia Indonesia hendaknya lebih mengedepankan nilai demokrasi dalam situasi apapun, terutama selama masa-masa kampanye pemilihan umum (pemilu) berlangsung.

#junjung_erat_persaudaraan.

D. Anang


Minggu, 07 Februari 2021

NTT: Nanti Tuhan Tolong

 Nak, NTT itu...

Provinsi di ujung timur Indonesia.

Tempat mentari bersandar 

Sebelum memuncak.

Tapi,...

Gayanya sudah kebarat-baratan.

Yang dulu katanya junjung erat persaudaraan,

Kini menjadi sarang perpecahan.

Nak, NTT itu kaya akan hasil alam,

Seperti cendana, kopi, fanilli dan lainnya,

Tapi dari nenek moyang kita hingga hari ini,

Kita masih tercatat sebagai peringkat ketiga kemiskinan di tanah air ini.

Rakyat kita kelaparan,

Sedang pejabat kita malah tutup mata terus memakan uang rakyat.

Rakyat banyak mengidap penyakit busung lapar, sedang pejabat kita hidup 4 sehat 5 sempurna.

Nak, kamu tahu,...

NTT itu Nusa Tenggara Timur

Nusa Tenggara Termiskin

Nanti Tuhan Tolong.


Minggu, 26 Januari 2020

"Tembras" Dan Mimpi Para Petani di Raci

Gambar Pribadi: Dolin Anang

'Tidak ada yang lebih penting selain ingin bertahan hidup. Itulah alasan jika ditanya mengapa kami masih bertemankan tanah, meski sesekali kami merasa, ini terlampau berat untuk kami jalani. Sawah kami berada jauh dari tempat kami tinggal. Mungkin, jika tidak berlebihan, separuh hidup kami hanya merupakan taruhan untuk berjuang melawan kesengsaraan ini. Akses jalan tani yang belum memadai, mengajarkan kami untuk tetap sabar dan tabah menjalani. Keringat bercucurkan air mata saat hasil panen berlimpah. Kami sedikit bangga dengan perjuangan ini, juga menagis karena harus seperti ini.'
Masa liburan 25 hari yang lalu seakan membawa perasaan ini pada pristiwa beberapa tahun silam. Begitu vulgar untuk menceritakan hebatnya perjuangan melawan getirnya hidup kala itu. Di sisi lain, hati ini seakan tercabik oleh berbagai kepedihan yang dialami. Memikul padi dari sawah sampai ke rumah, membajak sawah menggunakan kerbau, makan apa-adanya, dan banyak hal lain yang masih  terpaut di hati ini.
"Tembras" merupakan area persawahan masyarakat kampung Raci. Letaknya lumayan jauh dari kampung. Selain itu, jalannya terjal dan bertebing. "Tembras" dan area persawahan sekitar merupakan jantung hidup kami. Meski banyak kerikil tajam yang mesti kami lalui, kami tetap setia merawat area persawahan ini. Sebab hanya ini satu-satunya sumber pengharapan kami.
Tebing tinggi yang kami lalui merupakan arena perjuangan kami setiap hari.  Ada banyak isak tangis yang tumpah dari karung-karung padi saat melewati jalan terjal bertebing itu. Hingga tidak heran kalau banyak dari antara kami yang melarikan diri mencari posisi aman dengan cara merantau ke luar wilayah.
 Sungguh, ini sebuah kenyataan gali lubang tutup lubang. Hasil panen kami tidak sebanding dengan segala pergulatan saat merawatnya. Adalah suatu kabar sukacita yang kami sambut 4 tahun lalu, akses jalan tani diperbaiki, meskipun belum maksimal. Setidaknya, ini sebagai pertanda bahwa mimpi-mimpi kami masih hidup di tanah ini. Kisah ini sungguh pilu. Bahkan hati yang pernah merasakan getirnya sungguh merasakan sebuah kepahitan yang mesti ditelan bulat-bulat. Kalau boleh bersenda-gurau, kami boleh katakan, perjuangan kami sebanding dengan salib yang dipikul ke Golgota. Bedanya, kami memikulnya tiap hari tanpa henti.
Sejak saat itu, saya ingin menangis. Tapi apa gunanya? Bukankah setiap hari yang kita lalui dulu selalu terisak tangis? Bertolak dari kenyataan itu, kita mengerti bahwa mimpi kita terkubur di sini, di tanah ini. Kita akan bertumbuh sebagai seorang pecundang, jika tanah ini kita lepas buang percuma. Kita tumbuh memiliki tubuh sekekar ini, berkat juang para pendahulu. Lantas, kepada siapa kita mengadu atas kenyataan ini?
Salam juang buat sahabat semua yang masih merawat kenang di tanah ini.

Tulisan ini hanya merupakan pergolakan batin sang penulis terkait realita yang menyedihkan di tanah yang merdeka ini. Seutuhnya, kami belum merdeka.

Millano, 26' January 2020.
Salam hangat, Dolin Anang.

Selasa, 08 Oktober 2019

Kami Rindu

Setiap jengkal detik hidup kami
Ada harap dan doa atas kemelaratan ini
Kami merindukan seorang dewi
Menerbangkan mimpi 

Dari sebuah keterjajahan
Kami rindu kemenangan
Dari sebuah ketertindasan
Kami rindu kebebasan

Kami rindu pada sebuah kejayaan
Menatap hidup penuh kegirangan
Hentikan semua keserakahan
Demi sebuah kemakmuran

Kami rindu hidup
Sekali saja nafas lega kami hirup
Kami rindu kejayaan
Pada sebuah harapan

Millano, 00:25. Okt, 08'019
Tegakkan demokrasi.