Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 22 Februari 2019

UNSUR SEMESTA BAHASA MANGGARAI






 Disusun Oleh: Peminat Linguistik Umum San Camilo (Dolin, Jordy, Camilus, Dar, Aron).

Pengantar
            Negara Indonesia merupakan negara yang terbentuk dari beragam etnis, agama, ras, budaya, dan bahasa. Dari sudut pandang bahasa, berdasarkan perkiraan umum yang disampaikan orang awam, di seluruh Indonesia terdapat 200 hingga 300 bahasa darerah. Namun, berdasarkan  penelitian kelompok SIL (2001) di seluruh Indonesia terdapat 726 bahasa daerah (dengan catatan tidak termasuk 3 bahasa yang telah punah).[1]Berlatar pada hasil penelitian ini, dapat menarik kesimpulan bahwa keunikan bangsa Indonesia justru terletak dalam keanekaragaman ini. Pada tulisan ini, secara spesifik kami akan membahas salah satu bahasa daerah yaitu bahasa Manggarai yang hidup di pulau Flores pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Daerah Manggarai terletak di bagian Barat pulau Flores. Secara geografis, di bagian Barat, wilayah ini berbatasan dengan selat Sape dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat, sedangkan sebelah timurnya berbatasan dengan Kabupaten Ngadatepatnya di Wae Mokel. Sebelah utara dengan Laut Flores, dan sebelah selatan berbatasan dengan Laut Sawu. Secara Astronomis, wilayah ini terletak antara 80 301 L. S-80 501 L.S dan 1190 301 B.T- 1200 501 B.T.[2]Kebudayaan Manggarai merupakan suatu khasanah kebudayaan nasional. Kebudayaan Manggarai memiliki kekhasannya tersendiri. Hal ini dapat dilihat dalam tujuh unsur kebudayaan, seperti: sub system ilmu pengetahuan, sub system teknologi, sub system sosial, sub system bahasa, sub system religi, sub system ekonomi/mata pencaharian, sub system kesenian.
Perkembangan arus teknologi dan informasi yang begitu pesat, menggiring masyarakat untuk hidup sesuai tuntutan zaman. Perkembangan ini membawa dampak yang munguntungkan sekaligus merugikan masyarakat sendiri. Dilihat dari sudut pandang budaya,hal ini cenderung membawa masyarakat tradisional yang masih melekat nilai dan adat-istiadatnya menjadi masyarakat modern yang cenderung individualisme dan lebih condong kepada gaya hidup yang serba instan.Hal ini sangat memprihatinkan karena banyak hal positif yang ditinggalkan atau bahkan hampir punah hingga dewasa ini. Oleh karena itu, selain untuk memenuhi tuntutan akademik, kami juga ingin merevitalisasi nilai yang tertinggal dalam kebudayaan Manggarai. Kami akan membahas mengenai unsur semesta bahasa yang terdapat di dalam bahasa Manggarai. Kami membatasi pembahasan ini pada wilayah Manggarai tengah.
Unsur-UnsurSemesta BahasaDalamKebudayaanManggarai
            Sebagaimana halnya dengan kebudayaan-kebudayaan lain, dalam kebudayaan Manggarai juga terdapat unsur-unsur semesta dalam bahasa. Namun, kita mesti akui bahwa setiap kebudayaan pasti memiliki keunikannya tersendiri. Oleh karena itu, pada bagian ini akan dibahas mengenai unsur semesta yang terdapat dalam bahasa Manggarai dengan segala keunikannya.
A.    Kategori bilangan:
Orang Manggarai telah mengenal menghitung sejak dulu karena dalam keseharian, mereka selalu berhadapan dengan hal menghitung. Selain itu, mereka juga mengenal tentang ruang dan waktu.[3] Untuk diketahui, orang Manggarai zaman dulu menggunakan gejala-gejala alam dalam menghitung waktu. Contohnya, waktu bekerja di kebun atau pun di sawah. Orang Manggarai sejak zaman dulu bahkan sampai sekarang, orang Manggarai melihat waktu itu dengan melihat posisi matahari. Kalau matahari bertepatan di tengah atau lurus dengan posisi orang yang melihatnya, itu menandakan bahwa saatnya untuk jam makan siang. Begitu juga ketika waktu sudah petang. Orang Manggarai menjadikan semua itu sebagai bentuk waktu tanpa menggunakan jam atau arloji seperti sekarang. Hal ini karena situasi zaman waktu itu memang demikian. Dalam bahasa Manggarai terdapat berbagai kategori bilangan yang dapat diringkas seperti yang akan dijelaskan di bawah ini:
·         Bilangan pokok
Bilangan pokok dalam bahasa Manggarai, seperti: ca, sua , telu, pat, lima, enem, pitu, alo, ciok, cempulu dan seterusnya. Artinya (satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, Sembilan, sepuluh). Bilangan-bilangan ini sering digunakan dalam menghitung jumlah barang. Contohnya adalah ketika orang bertanya: “Kesa, pisa karung’d hasil woja dite ntaung ho’o?” Maka jawabannya seperti: “Toe manga do koen ta kesa, lima karung’d kali, remo eme tadu koe dureng ho’o”. Selain itu, bilangan pokok dalam bahasa Manggarai sering pula digunakan dalam menghitung atau penamaan pada kalendar bulanan. Orang Manggarai zaman dulu tidak mengenal nama bulan seperti: Januari, Februari, dan seterusnya seperti yang kita kenal sekarang. Mereka hanya menghitungnya dengan menggunakan bilangan pokok, seperti: wulang ca, wulang sua, wulang telu, wulang pat, wulang lima, dan seterusnya. Dalam bentuk waktu yang telah lewat seperti: olo wulang pitu (artinya: Pada bulan tujuh yang telah lewat), dan lain-lain. Masih banyak kegunaan lain dari bilangan pokok ini, seperti ketika menghitung jumlah anggota dalam satu kelompok, dan lain-lain.
Selain itu, bilangan pokok sering pula diugunakan dalam hal menimbang berat. Orang Manggarai dulu selalu menyatakan berat dalam bentuk satuan takaran karena pada masa itu belum ada timbangan seperti dacing yang kita kenal sekarang. Orang Manggarai selalu menggunakan, misalnya: cedako (segenggam), sua dako, telu dako, cetongka (setabung), sua tongka, telu tongka, cerujut (sedikit), dan lain-lain. Kategori bilangan ini sering digunakan ketika orang menanyakan atau menyatakan jumlah atau berat sesuatu. Penggunaanya dalam bentuk kalimat seperti: “Lopo, gici pisa tongka dea one pisa dugu bantang sina mbaru gendang?” Maka jawabannya seperti: “ Bo bantang one pisa gici lima tongka, landing ga nuk kole agu ase kae sot iwod, jadin ga capa kat ata mangan, tama one ranga.”
Bilangan pokok juga digunakan dalam menyatakan ukuran jarak, seperti: ce pa, sua pa, ce depa, sua depa,  ce pagat, sua pagat dan seterusnya. Bilangan ini juga sering digunakan untuk menyatakan ukuran waktu, seperti: cerepa mata (sekejap mata), celiwa (sepuluh tahun), ce ntaung (satu tahun), dan seterusnya.
·         Bilangan bertingkat
Selain bilangan pokok, dalam bahasa Manggarai juga terdapat bilangan bertingkat sepeti: te can, te suan, te telun, te patn, te liman, dan seterusnya. Penggunaan bilangan bertingkat dalam bahasa Manggarai dapat ditemukan ketika orang menanyakan atau menyatakan nomor urutan.  Contohnya: “Kesa, ro’eng te pisa’n dite ho’o?” Maka jawabannya seperti: “Ho’o di te alo’n lite ta kesa.”
·         Kata Bantu bilangan
Dalam bahasa Manggarai, dikenal beberapa kata bantu dalam bilangan, seperti: te, ce, dan lain-lain. Kata bantu te,  selalu digunakan dalam bilangan bertingkat. Contohnya, te can, te suan, te telun, dan seterusnya. Selain itu, kata bantu ini juga sering digunakan dalam bilang tak tentu, misalnya: Pu’ung danong mai’n sampe te ho’on ce’e. Dalam bilangan bertingkat, kata bantu te menunjukkan tingkatan (yang ke-). Sedangkan dalam bilangan tak tentu, kata bantu ini menunjukkan selang waktu yang tak berhingga.
Selain itu, kata bantu ce digunakan untuk menggantikan bilangan satu ketika digunakan dalam bentuk waktu, ukuran, dan berat. Contohnya: ce ntaung, ce depa, ce tongka, ce minggu dan lain-lain. Selain itu, kata ini juga digunakan dalam bentuk kata tanya ce pisa yang artinya kapan. Contohnya: Ce pisa kole ge?
·         Bilangan Tak Tentu
Orang Manggarai juga  mengenal bilangan tak tentu seperti yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain. Contoh bentuk bilangan tak tentu dalam bahasa Manggarai adalah: olo (dulu),  dengkir tai (sampai nanti), danong petajo (dahulu kala), mede (dulu), du hitu (waktu itu/ saat itu), tedeng len (selamanya), capa ata mangan (seberapa adanya), dan sebagainya. Contoh dalam kalimatnya: Aku momang ite tedeng len (aku mencintaimu selamanya), du mede main laku nanang ite (sejak dari dulu, saya suka sama kamu).
B.     Peniadaan:
Kategori yang menunjukkan lawan dari yang positif, seperti berikut:
BentukPositif
BentukNegatif
Manga(ada)
Toe Manga(tidakada)
Nganceng(bisa)
Toe Nganceng(tidakbisa)
Di’a (baik)
Toe manga di’a(tidakbaik)
Molas (cantik)
Toe manga molas(tidakcantik)
Reba(ganteng)
Toe manga reba(tidakganteng)
Mupuk(rajin)
Toe manga mupuk(tidakrajin)
Nggepuk(jujur)
Toe manga nggepuk(tidakrajin)
C.    Waktu
Dalam semua bahasa ada perbedaan antara waktu sekarang, waktu yang lalu, dan waktu yang akan datang. Contoh pembagian waktu dalam bahasa Manggarai:

Waktu Lampau
Waktu Sekarang
Waktu yang akan datang
Danongpetajo (dahulu kala)
Leso ho’o (hari ini)
Diang (esok)
One meseng (kemarin)
Wieho’o (malam ini)
Ntaung musi (tahun depan)
One sua (duahari yang lalu)
Mane ho’o (sore ini)
Tai (nanti)
Meseng mane (kemarin sore)
Uwaho’o ( zaman sekarang)
To’ong (sebentar)
One wie (tadi malam)
Gula ho’o (pagiini)
Wulang musi (bulan depan)
Bao gula (tadi pagi)
Ntaung ho’o (tahun ini)
Mose tai (hidup yang akan datang)

D.    Kata Ganti Orang
Dalam bahasa Manggarai terdapat kata ganti orang, baik tunggal maupun jamak. Hal itu dapat dilihat di bawah ini:
Ø  Bentuk tunggal seperti:
·         Hau (engkau): digunakan untuk menyapa orang yang lebih muda usianya dari pembicara
·         Ite (engkau): digunakan untuk menyapa orang yang lebih tua usianya dari pembicara
·         Hia (dia): digunakan untuk menyebut orang ketiga baik untuk laki-laki maupun perempuan.
Ø  Bentuk Jamak
Penggunaan bentuk jamak dalam bahasa Manggarai, untuk menunjukan suatu peristiwa yang sudah, sedang dan akan terjadi. Di mana pembicara hadir lansung dalam suatu pembicaraan Hal ini dapat dilihat dalam penggunaan bentuk kata jamak di bawah ini.
·         Meu (kalian): digunakan untuk menyebut dua atau lebih orang. Di sini pembicara sebagai orang ketiga. Cotohnya: meu sua, neka danga ndenget (Kalian berdua jangan keras kepala).
·         Ite (Kita): digunakan untuk menyebut dua atau lebih orang, termasuk pembicara. Contohnya: diang gula, ite ngo we’ang uma (besok pagi, kita pergi bersih kebun).
·         Ami (kami): penggunaan kata ami hampir sama penggunaannya dengan kata ite, tetapi kata ami lebih mengarah, ketika pembicara berkomunikasi dengan orang lain di luar peristiwa. Contoh peristiwa yang telah terjadi: one wie, ami kudut rumpak le oto (tadi malam, kami hampir ditabrak mobil), sedangkan contoh peristiwa yang belum terjadi: to’ong mane, ami ngo pese kuse (sebentar sore, kami pergi mencari udang).
·         Ise (mereka): penggunaan kata ise hampir sama dengan penggunaan kata meu. Di sini, pembicara hadir sebagai orang ketiga. Contohnya:
E.     Sapaan-sapaan
Dalam bahasa Manggarai, dikenal sapaan-sapaan seperti: ende-ema, ase-kae, ende lopo-ema lopo, inang-amang, wote-koa, toa, empo, kesa eja, wina tungku-rona tungku, ende koe-ema koe, ende tu’a-ema tu’a,dan lain sebagainya. Sapaan ende-ema umumnya digunakan untuk menyapa ibu dan ayah. Namun, dalam daerah tertentu atau pada keluarga tertentu, sapaan ini tidak jarang pula digunakan untuk menyapa kakek dan nenek. Sapaan ase-kae umumnya digunakan untuk menyapa adik atau kakak. Namun dalam arti lain, ase-kae diartikan sebagai keluarga. Jadi, ase-kae di sini memiliki makna ganda, tergantung pada konteks penggunaanya. Misalnya: “Ase, de di’a sekolah e”. Pernyataan ini menunjukan hubungan adik-kakak. Sedangkan kalau pernyataannya seperti: “sangged ase-kae ata manga ranga, neki weki”. Sapaan ase-kae yang digunakan dalam pernyataan ini adalah untuk menyatakan kekeluargaan.
Ungkapan-ungkapan
Selain itu, perlu pula dijelaskan pada bagian ini bahwa salah satu karakteristik orang Manggarai pada umumnya adalah sikap kerendahan hati dan kesederhanaan. Contohnya, ketika orang lain bertanya: “Asa koe dite ta kesa, pisa koe mendo’d dite bo welu situ?” Dari pertanyaan ini, orang Manggarai pasti menjawabnya tidak sesuai dengan berat yang sebenarnya. Mereka selalu menggunakan ungkapan-ungkapan yang menyatakan kesederhanaan, seperti: “Toe manga do koed ta kesa, remo eme nganceng koe weli baju wengko weki.” Jika kita lihat, jawaban ini sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan karena yang ditanyakan itu soal berat bukan soal keperluannya. Tetapi, itulah keunikan masyarakat Manggarai, ungkapan-ungkapan kesederhanaan seperti itu selalu melekat pada diri mereka. Hal ini seperti yang diterangkan oleh aliran behaviorisme yang mengatakan bahwa bahasa merupakan salah satu wujud tingkah laku manusia yang dinyatakan secara verbal atau dengan kata-kata, atau bahasa merupakan wujud perilaku manusia yang dapat ditangkap oleh pancaindra.[4]

 Penutup
            Daerah Manggarai merupakan salah satu bagian wilayah yang mendiami pulau Flores. Yang mempunyai nilai kebudayaan yang sangat religius. Kebudayaan Manggarai punya keunikan tersendiri. Perlu diakui bahwa dalam kebudayaan Manggarai terdapat unsur-unsur semesta bahasa, seperti yang telah diulaskan di atas. Kendati demikian, masih terdapat unsur semesta bahasa yang sulit untuk diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, seperti: Rebok, siki-seko, empek, robo, teong, pepak, dan lain-lain. Mungkin saja muncul pemikiran ambivalen terhadap hal ini. Namun, hemat penulis bahwa apa yang terdapat dalam kebudayaan Manggarai mmerupakan harta yang tak ternilai dan unik bagi masyarakat Manggarai.


[1]Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder, Persona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007), hlm. 185.
[2]Antony Bagul Dagur, Kebudayan Manggarai: Sebagai Salah Satu Khasanah Kebudayaan Nasional (Surabaya: Ubhara Press, 1998), hlm. 1.
[3]Ibid, hlm. 21.
[4] Jos Daniel Parera, Linguistik Edukasional: Metodologi Pembelajaran Bahasa, Analisis kontrastif Antarbahasa, Analisis Kesalahan Berbahasa (Jakarta: Penerbit Erlangga,1997), hlm. 51.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar