Disusun Oleh: Peminat Linguistik Umum San Camilo (Dolin, Jordy, Camilus, Dar, Aron).
Pengantar
Negara Indonesia merupakan negara yang terbentuk dari
beragam etnis, agama, ras, budaya, dan bahasa. Dari sudut pandang bahasa,
berdasarkan perkiraan umum yang disampaikan orang awam, di seluruh Indonesia
terdapat 200 hingga 300 bahasa darerah. Namun, berdasarkan penelitian kelompok SIL (2001) di seluruh
Indonesia terdapat 726 bahasa daerah (dengan catatan tidak termasuk 3 bahasa
yang telah punah).[1]Berlatar
pada hasil penelitian ini, dapat menarik kesimpulan bahwa keunikan bangsa
Indonesia justru terletak dalam keanekaragaman ini. Pada tulisan ini, secara
spesifik kami akan membahas salah satu bahasa daerah yaitu bahasa Manggarai
yang hidup di pulau Flores pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Daerah Manggarai terletak di bagian Barat pulau Flores.
Secara geografis, di bagian Barat, wilayah ini berbatasan dengan selat Sape dengan Provinsi
Nusa Tenggara Barat, sedangkan sebelah timurnya berbatasan dengan Kabupaten
Ngadatepatnya di Wae Mokel. Sebelah utara dengan Laut Flores, dan sebelah
selatan berbatasan dengan Laut Sawu. Secara Astronomis, wilayah ini terletak
antara 80 301 L. S-80 501 L.S dan
1190 301 B.T- 1200 501 B.T.[2]Kebudayaan
Manggarai merupakan suatu khasanah kebudayaan nasional. Kebudayaan Manggarai memiliki kekhasannya tersendiri. Hal ini dapat dilihat dalam tujuh unsur kebudayaan, seperti: sub system ilmu pengetahuan,
sub system teknologi, sub system sosial, sub system bahasa, sub system religi, sub system ekonomi/mata pencaharian, sub system kesenian.
Perkembangan
arus teknologi dan informasi yang begitu pesat, menggiring masyarakat untuk
hidup sesuai tuntutan zaman. Perkembangan ini membawa dampak yang munguntungkan
sekaligus merugikan masyarakat sendiri. Dilihat dari sudut pandang budaya,hal ini
cenderung membawa masyarakat tradisional yang masih melekat nilai dan
adat-istiadatnya menjadi masyarakat modern yang cenderung individualisme dan
lebih condong kepada gaya hidup yang serba instan.Hal
ini sangat memprihatinkan karena banyak hal positif yang ditinggalkan atau
bahkan hampir punah hingga dewasa ini. Oleh karena itu, selain untuk memenuhi
tuntutan akademik, kami juga ingin merevitalisasi nilai yang tertinggal dalam
kebudayaan Manggarai. Kami akan membahas mengenai unsur semesta bahasa yang
terdapat di dalam
bahasa Manggarai. Kami membatasi pembahasan ini pada wilayah Manggarai
tengah.
Unsur-UnsurSemesta
BahasaDalamKebudayaanManggarai
Sebagaimana halnya dengan
kebudayaan-kebudayaan lain, dalam kebudayaan Manggarai juga terdapat
unsur-unsur semesta dalam bahasa. Namun, kita mesti akui bahwa setiap
kebudayaan pasti memiliki keunikannya tersendiri. Oleh karena itu, pada bagian
ini akan dibahas mengenai unsur semesta yang terdapat dalam bahasa Manggarai
dengan segala keunikannya.
A.
Kategori
bilangan:
Orang Manggarai telah mengenal
menghitung sejak dulu karena dalam keseharian, mereka selalu berhadapan dengan
hal menghitung. Selain itu, mereka juga mengenal tentang ruang dan waktu.[3] Untuk
diketahui, orang Manggarai zaman dulu menggunakan gejala-gejala alam dalam
menghitung waktu. Contohnya, waktu bekerja di kebun atau pun di sawah. Orang
Manggarai sejak zaman dulu bahkan sampai sekarang, orang Manggarai melihat
waktu itu dengan melihat posisi matahari. Kalau matahari bertepatan di tengah
atau lurus dengan posisi orang yang melihatnya, itu menandakan bahwa saatnya
untuk jam makan siang. Begitu juga ketika waktu sudah petang. Orang Manggarai
menjadikan semua itu sebagai bentuk waktu tanpa menggunakan jam atau arloji
seperti sekarang. Hal ini karena situasi zaman waktu itu memang demikian. Dalam bahasa Manggarai terdapat berbagai kategori
bilangan
yang dapat diringkas seperti yang
akan dijelaskan di bawah ini:
·
Bilangan
pokok
Bilangan pokok dalam bahasa Manggarai, seperti: ca, sua , telu, pat, lima, enem,
pitu, alo, ciok, cempulu dan seterusnya. Artinya (satu, dua,
tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, Sembilan, sepuluh). Bilangan-bilangan ini sering digunakan dalam menghitung
jumlah barang. Contohnya adalah ketika orang bertanya: “Kesa, pisa karung’d hasil woja dite ntaung ho’o?” Maka jawabannya
seperti: “Toe manga do koen ta kesa, lima
karung’d kali, remo eme tadu koe dureng ho’o”. Selain itu, bilangan
pokok dalam bahasa Manggarai sering pula digunakan dalam menghitung atau
penamaan pada kalendar bulanan. Orang Manggarai zaman dulu tidak mengenal nama
bulan seperti: Januari, Februari, dan seterusnya seperti yang kita kenal
sekarang. Mereka hanya menghitungnya dengan menggunakan bilangan pokok,
seperti: wulang ca, wulang sua, wulang
telu, wulang pat, wulang lima, dan seterusnya. Dalam bentuk waktu yang
telah lewat seperti: olo wulang pitu (artinya:
Pada bulan tujuh yang telah lewat), dan lain-lain. Masih banyak kegunaan lain dari
bilangan pokok ini, seperti ketika menghitung jumlah anggota dalam satu
kelompok, dan lain-lain.
Selain itu, bilangan pokok sering pula diugunakan dalam
hal menimbang berat. Orang Manggarai dulu selalu menyatakan berat dalam bentuk
satuan takaran karena pada masa itu belum ada timbangan seperti dacing yang
kita kenal sekarang. Orang Manggarai selalu menggunakan, misalnya:
cedako (segenggam),
sua dako, telu dako, cetongka
(setabung), sua tongka, telu tongka, cerujut (sedikit), dan lain-lain. Kategori bilangan ini sering digunakan ketika orang
menanyakan atau menyatakan jumlah atau berat sesuatu.
Penggunaanya dalam bentuk kalimat seperti: “Lopo, gici pisa tongka dea one pisa dugu
bantang sina mbaru gendang?” Maka jawabannya seperti: “ Bo bantang one pisa gici lima tongka, landing ga nuk kole agu ase kae
sot iwod, jadin ga capa kat ata mangan, tama one ranga.”
Bilangan pokok juga digunakan dalam menyatakan ukuran
jarak, seperti: ce pa, sua pa, ce depa, sua
depa, ce pagat, sua
pagat dan seterusnya. Bilangan ini juga sering digunakan untuk menyatakan ukuran waktu, seperti: cerepa mata (sekejap mata), celiwa (sepuluh tahun), ce ntaung (satu tahun), dan seterusnya.
·
Bilangan
bertingkat
Selain bilangan pokok, dalam bahasa Manggarai juga
terdapat bilangan bertingkat sepeti: te
can, te suan, te telun, te patn, te liman, dan seterusnya. Penggunaan
bilangan bertingkat dalam bahasa Manggarai dapat ditemukan ketika orang
menanyakan atau menyatakan nomor urutan.
Contohnya: “Kesa, ro’eng te pisa’n
dite ho’o?” Maka jawabannya seperti: “Ho’o
di te
alo’n lite ta kesa.”
·
Kata
Bantu bilangan
Dalam bahasa Manggarai, dikenal beberapa kata bantu dalam
bilangan, seperti: te, ce, dan
lain-lain. Kata bantu te, selalu digunakan dalam bilangan bertingkat.
Contohnya, te can, te suan, te telun, dan
seterusnya. Selain itu, kata bantu ini juga sering digunakan dalam bilang tak
tentu, misalnya: Pu’ung danong mai’n sampe te ho’on ce’e. Dalam
bilangan bertingkat, kata bantu te menunjukkan
tingkatan (yang ke-). Sedangkan dalam bilangan tak tentu, kata bantu ini
menunjukkan selang waktu yang tak berhingga.
Selain itu, kata bantu ce digunakan untuk menggantikan bilangan satu ketika digunakan
dalam bentuk waktu, ukuran, dan berat. Contohnya: ce ntaung, ce depa, ce tongka, ce minggu dan lain-lain. Selain itu,
kata ini juga digunakan dalam bentuk kata tanya ce pisa yang artinya kapan. Contohnya: Ce pisa kole ge?
·
Bilangan
Tak Tentu
Orang Manggarai juga
mengenal bilangan tak tentu seperti yang terdapat dalam bahasa-bahasa
lain. Contoh bentuk bilangan tak tentu dalam bahasa Manggarai adalah: olo (dulu), dengkir tai
(sampai nanti), danong petajo (dahulu kala), mede (dulu), du hitu (waktu itu/ saat
itu), tedeng len (selamanya), capa ata
mangan (seberapa adanya), dan sebagainya. Contoh dalam kalimatnya: Aku momang ite tedeng len (aku
mencintaimu selamanya), du mede main laku
nanang ite (sejak dari dulu, saya suka sama kamu).
B. Peniadaan:
Kategori yang menunjukkan lawan dari
yang positif, seperti berikut:
|
BentukPositif
|
BentukNegatif
|
|
Manga(ada)
|
Toe Manga(tidakada)
|
|
Nganceng(bisa)
|
Toe Nganceng(tidakbisa)
|
|
Di’a
(baik)
|
Toe manga di’a(tidakbaik)
|
|
Molas
(cantik)
|
Toe manga molas(tidakcantik)
|
|
Reba(ganteng)
|
Toe manga reba(tidakganteng)
|
|
Mupuk(rajin)
|
Toe manga mupuk(tidakrajin)
|
|
Nggepuk(jujur)
|
Toe manga nggepuk(tidakrajin)
|
C. Waktu
Dalam semua bahasa ada perbedaan antara waktu sekarang, waktu yang lalu, dan waktu yang akan datang. Contoh pembagian waktu dalam bahasa Manggarai:
|
Waktu Lampau
|
Waktu Sekarang
|
Waktu
yang akan datang
|
|
Danongpetajo
(dahulu kala)
|
Leso ho’o
(hari ini)
|
Diang
(esok)
|
|
One
meseng (kemarin)
|
Wieho’o
(malam ini)
|
Ntaung musi
(tahun depan)
|
|
One
sua (duahari yang lalu)
|
Mane
ho’o (sore ini)
|
Tai
(nanti)
|
|
Meseng
mane (kemarin sore)
|
Uwaho’o
( zaman sekarang)
|
To’ong
(sebentar)
|
|
One
wie (tadi malam)
|
Gula ho’o
(pagiini)
|
Wulang musi
(bulan depan)
|
|
Bao gula
(tadi pagi)
|
Ntaung ho’o
(tahun ini)
|
Mose
tai (hidup yang akan datang)
|
D.
Kata
Ganti Orang
Dalam bahasa Manggarai terdapat
kata ganti orang, baik tunggal maupun jamak. Hal itu dapat dilihat
di bawah ini:
Ø Bentuk tunggal seperti:
·
Hau (engkau):
digunakan untuk menyapa orang yang lebih muda usianya dari pembicara
·
Ite (engkau):
digunakan untuk menyapa orang yang lebih tua usianya dari pembicara
·
Hia (dia):
digunakan untuk menyebut orang ketiga baik untuk laki-laki maupun perempuan.
Ø Bentuk Jamak
Penggunaan bentuk jamak dalam bahasa Manggarai, untuk
menunjukan suatu peristiwa yang sudah, sedang dan akan terjadi. Di mana
pembicara hadir lansung dalam suatu pembicaraan Hal ini dapat dilihat dalam
penggunaan bentuk kata jamak di bawah ini.
·
Meu (kalian): digunakan untuk menyebut dua atau lebih orang. Di sini
pembicara sebagai orang ketiga. Cotohnya: meu
sua, neka danga ndenget (Kalian berdua jangan keras kepala).
·
Ite (Kita): digunakan untuk menyebut dua atau lebih orang, termasuk
pembicara. Contohnya: diang gula, ite ngo
we’ang uma (besok pagi, kita pergi bersih kebun).
·
Ami
(kami): penggunaan kata ami
hampir sama penggunaannya dengan kata ite,
tetapi kata ami lebih mengarah,
ketika pembicara berkomunikasi dengan orang lain di luar peristiwa. Contoh
peristiwa yang telah terjadi: one wie,
ami kudut rumpak le oto (tadi malam, kami hampir ditabrak mobil), sedangkan
contoh peristiwa yang belum terjadi: to’ong
mane, ami ngo pese kuse (sebentar sore, kami pergi mencari udang).
·
Ise
(mereka): penggunaan kata ise hampir sama dengan penggunaan kata meu. Di sini, pembicara hadir sebagai
orang ketiga. Contohnya:
E.
Sapaan-sapaan
Dalam bahasa
Manggarai, dikenal sapaan-sapaan seperti: ende-ema,
ase-kae, ende lopo-ema lopo, inang-amang, wote-koa, toa, empo, kesa eja, wina
tungku-rona tungku, ende koe-ema koe, ende tu’a-ema tu’a,dan lain
sebagainya. Sapaan ende-ema umumnya digunakan
untuk menyapa ibu dan ayah. Namun, dalam daerah tertentu atau pada keluarga
tertentu, sapaan ini tidak jarang pula digunakan untuk menyapa kakek dan nenek.
Sapaan ase-kae umumnya digunakan
untuk menyapa adik atau kakak. Namun dalam arti lain, ase-kae diartikan sebagai keluarga. Jadi, ase-kae di sini memiliki makna ganda, tergantung pada konteks
penggunaanya. Misalnya: “Ase, de di’a
sekolah e”. Pernyataan ini menunjukan hubungan adik-kakak. Sedangkan kalau
pernyataannya seperti: “sangged ase-kae
ata manga ranga, neki weki”. Sapaan ase-kae
yang digunakan dalam pernyataan ini adalah untuk menyatakan kekeluargaan.
Ungkapan-ungkapan
Selain itu, perlu pula
dijelaskan pada bagian ini bahwa salah satu karakteristik orang Manggarai pada
umumnya adalah sikap kerendahan hati dan kesederhanaan. Contohnya, ketika orang
lain bertanya: “Asa koe dite ta kesa,
pisa koe mendo’d dite bo welu situ?”
Dari pertanyaan ini, orang Manggarai pasti menjawabnya tidak sesuai dengan
berat yang sebenarnya. Mereka selalu menggunakan ungkapan-ungkapan yang
menyatakan kesederhanaan, seperti: “Toe
manga do koed ta kesa, remo eme nganceng koe weli baju wengko weki.” Jika
kita lihat, jawaban ini sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan
karena yang ditanyakan itu soal berat bukan soal keperluannya. Tetapi, itulah
keunikan masyarakat Manggarai, ungkapan-ungkapan kesederhanaan seperti itu selalu
melekat pada diri mereka.
Hal ini seperti yang diterangkan oleh aliran behaviorisme yang mengatakan bahwa
bahasa merupakan salah satu wujud tingkah laku manusia yang dinyatakan secara
verbal atau dengan kata-kata, atau bahasa merupakan wujud perilaku manusia yang
dapat ditangkap oleh pancaindra.[4]
Penutup
Daerah
Manggarai merupakan salah satu bagian wilayah
yang mendiami pulau Flores.
Yang mempunyai nilai kebudayaan yang sangat religius. Kebudayaan Manggarai punya keunikan tersendiri.
Perlu diakui bahwa dalam kebudayaan Manggarai terdapat unsur-unsur semesta bahasa,
seperti yang telah diulaskan
di atas. Kendati demikian,
masih terdapat unsur semesta bahasa
yang sulit untuk diterjemahkan kedalam Bahasa
Indonesia, seperti: Rebok, siki-seko,
empek, robo, teong, pepak, dan lain-lain. Mungkin saja muncul pemikiran
ambivalen terhadap hal ini. Namun, hemat penulis bahwa apa yang terdapat dalam
kebudayaan Manggarai mmerupakan harta yang tak ternilai dan unik bagi
masyarakat Manggarai.
[1]Kushartanti,
Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder, Persona
Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
2007), hlm. 185.
[2]Antony
Bagul Dagur, Kebudayan Manggarai: Sebagai
Salah Satu Khasanah Kebudayaan Nasional (Surabaya: Ubhara Press, 1998),
hlm. 1.
[3]Ibid, hlm. 21.
[4]
Jos Daniel Parera, Linguistik Edukasional: Metodologi
Pembelajaran Bahasa, Analisis kontrastif Antarbahasa, Analisis Kesalahan
Berbahasa (Jakarta: Penerbit Erlangga,1997), hlm. 51.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar