Wikipedia

Hasil penelusuran

Minggu, 14 Juli 2019

AIR TERJUN PANGKA DARI:KEINDAHAN SURGAWI YANG MEMBUMI

Gambar: Dokumen Pribadi Dolin Anang

Oleh: Dolin Anang


Segala sesuatu yang transenden, rupanya sulit dibahasakan secara sederhana dalam kehidupan nyata. Jika kita bertanya apa penyebabnya, maka kita akan terperangkap dalam golongan para pemikir yang tak kunjung usai dan tidak menemukan jawaban yang pasti. Demikianlah kiranya dengan destinasi wisata air terjun yang satu ini. Sebagian orang mungkin pernah mengujungi tempat ini dan pernah mengucap syukur kepada Tuhan saat melihatnya dengan bola mata telanjang. Bagi sebagian orang lagi, yang memadangnya dari kejauhan atau dalam channel youtube saja, mungkin akan mengalami keraguan dan kecurigaan bahwa apa yang mereka lihat adalah hasil editan. Tidak ada salahnya juga, sebab keelokan dan lekukan tubuh air terjun ini serupa lukisan yang dibuat secara hati-hati oleh pelukisnya. Namun menjadi sesuatu yang sangat disayangkan ketika testimoni itu mulai menyebar dan akan menjelma menjadi sesuatu yang benar padahal mengada-ada. Jika kita berbuat demikian, maka Tuhan kita curigai melalui keindahan ciptaan-Nya.
Air terjun "Pangka Dari" merupakan satu-satunya destinasi wisata air terjun di desa Wae Codi, kecamatan Cibal Barat, kabupaten Manggarai. Pada mulanya, hanya sedikit orang yang berani mengunjungi tempat ini. Hal ini karena masyarakat di daerah setempat beranggapan bahwa tempat ini merupakan tempat yang sakral dan mengerikan. Konon ceritanya, tempat ini merupakan tempat untuk mandi dan menjemur diri bagi para bidadari. Mitos ini menjadi sesuatu yang benar dan memiliki alasan yang kuat ketika hal itu dicocokkan dengan anggapan orang Manggarai tentang pelangi. Kepercayaan orang Manggarai dulu, dimana ada pelangi, maka bidadari pasti berada di situ juga. Hal ini sangat mempengaruhi masyarakat setempat dan enggan untuk memasuki wilayah air terjun ini karena ketika matahari sedang merayu untuk mengecup kening serpihan air terjun tersebut, pelangi perlahan menampilkan dirinya yang elok. Mitos inilah yang melekat pada diri masyarakat setempat.  Anggapan itu perlahan memudar ketika beberapa orang pengelana idiot dari daerah setempat memberanikan diri untuk membongkar anggapan tersebut dan membabtis tempat itu menjadi tempat pariwisata yang akhir-akhir ini banyak orang mulai jatuh cinta padanya. Bahkan tidk ada alasan yang tepat untuk merasa cemburu, sebab tempat ini memang memiliki aura yang berbeda dengan destinasi wisata di tempat lain.

Air terjun "Pangka Dari" yang masih anak dara (alamiah) ini, memiliki Medan yang lumayan tebing, memacu adrenalin bagi para wisatawan yang ingin mencicipi keelokannya. Airnya yang dingin dan segar, menjadi pelepas kelelahan saat memasukinya. Lumut-lumut bergantungan yang memayungi gua-gua, terlihat seolah lukisan ala Eropa yang memanjakan mata. Selain menikmati kesegaran dan keindahan air terjun, para wisatawan dapat merehatkan mata memenadang daerah persawahan di sebelah kanannya, dan tidak lupa mengantongi syukur ketika menolah "Wae Bahi" di sebelah kirinya. Di tempat ini, para pengunjung akan tahu, kalau Tuhan itu indah dan secara tidak langsung akan memandang Tuhan secara dekat. Mengapa demikian? Karena di tempat ini anda akan merasakan suasana surgawi yang membumi.

Anda masih belum percaya? Tunggu apa lagi, manfaatkan masa liburanmu untuk bercinta dengannya.

Selasa, 09 Juli 2019

MENILIK NILAI KEINDAHAN DAN KESENIAN KAIN ADAT SONGKE DALAM KEBUDAYAAN MANGGARAI

                                                           Oleh: Dolin Anang


 Pengantar: Kaum muda membaca realitas
            Segala sesuatu pasti memiliki makna dan nilai keindahan dalam dirinya sendiri. Nilai keindahan pada sesuatu  itu akan tampak jelas diketahui jika manusia sebagai penikmat seni mampu menyelami dan menemukan nilai keindahan itu pada suatu barang apa pun. Pada barang ciptaan, tentu nilai keindahan itu diciptakan oleh manusia sendiri sabagai pencipta seni. Bagaimana ia melukiskan sesuatu dan memaknai sesuatu itu dalam barang ciptaannya. Dari kesenian itulah muncul nilai keindahan yang dapat dinikmati oleh banyak orang sebagai penikmat seni.
            Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam suatu sisi membawa manusia kepada kehidupan yang serba modern seperti hidup serba instan. Namun, jika ditelisik dari sudut pelestarian budaya, perkembangan ini justru menyenangkan manusia yang barangkali berdampak pada kelunturan bahkan kehilangan nila-nilai budaya masyarakat setempat yang telah lama hidup sebelumnya. Bahkan yang lebih memprihatinkan adalah praktek kebudayaan atau pun hasil kebudayaan itu hanya dilihat sebagai sesuatu yang begitu-begitu saja atau dianggap sebagai ritual semata tanpa pernah menyelami nilai yang terkandung di dalamnya.
Berlatar pada realitas ini, penulis mencoba menilik suatu nilai keindahan yang terdapat dalam salah satu hasil kebudayaan orang Manggarai yaitu pada kain adat songke orang Manggarai sendiri. Selain daripada itu, barangkali makna dan nilainya masih bersifat kabur bagi kebanyakan orang, baik bagi orang Manggarai sendiri maupun bagi orang luar yang ingin mengenal dan mengetahui nilai keindahan dalam kain songke orang Manggarai.


Mengenal Kain Adat Songke Orang Manggarai dan Aneka Motif di Dalamnya
            Kain songke merupakan suatu bentuk hasil karya seni orang Manggarai dalam bentuk tenunan ikat yang syarat nilai dan simbol. Nilai-nilai yang terkandung  dalam kain songke, biasa ditemukan dalam warna kain dan pada motif-motif kain tersebut. Berikut ini akan dipaparkan beberapa motif pada kain songke yang lazim digunakan, serta makna dalam setiap motif yang dirajut di dalamnya, sebagaimana terdapat dalam buku “kebudayaan manggarai sebagai salah satu khasanah kebudayaan nasional” karya (Drs. Anthony Bagul Dagur: 1998).
·      Warna dasar Hitam
Adalah warna kebesaran/ keagungan orang Manggarai. Warna dasar hitam melambangkan kepasrahan karena sikap tanatos yaitu bahwa kehidupan adalah prosesi dari Allah menuju Allah. Oleh karena itu, dalam upacara kematian orang Manggarai, orang yang meninggal itu dibungkus atau diselimuti oleh kain adat songke itu sendiri sebagai lambang keberakhiran. Bukan hanya pada warna dasar hitam, Aneka motif bunga pada kain songke juga mengandung banyak makna sesuai motif itu sendiri seperti beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
·         Motif Jok
Yaitu motif dasar yang unik sebagai salah satu jati diri budaya Manggarai. Jok melambangkan persatuan baik persatuan menuju Allah (Mori Jari Dedek) penguasa alam semesta, maupun persatuan dengan sesama manusia dengan alam sekitarnya. Jok terkait erat dengan bentuk atap rumah adat Manggarai dan model “Lodok Langang” (kebun komunal).[1]

·         Motif Wela Kaweng
Bentuk motif ini diambil dari tumbuhan bunga kaweng yang banyak tumbuh di wilayah Manggarai. Motif ini bermakna interdependensi antara manusia dengan alam sekitarnya. Tumbuhan kaweng baik daunnya maupun bunganya untuk dijadikan bahan pengobatan luka dari hewan piaraan/ternak. Motif ini mengajarkan kita bahwa alam flora menunjang kehidupan manusia, baik sebagai makanan dan perumahan maupun untuk pengobatan; oleh karena itu, lestarikan alam lingkungan.

·         Bunga songke bermotif Ranggong (Laba-laba)
Laba-laba tekun membuat jaringan dan motif ini bersimbol kejujuran dan kerja keras /cermat. Diyakini dan disadari, bahwa laba-laba tidak pernah mencuri atau cari gampang sepeti tikus. Melalui motif ranggong yang syarat makna ini, orang Manggarai selalu diingatkan untuk senantiasa bekerja keras, cermat dan jujur, sehingga beroleh rezeki dari ketekunan bekerja secara cermat dan jujur. Hanya dengan kejujuran orang hidup tenang, tidak diburu seperti tikus.
·         Motif Su’i (garis-garis batas)
Melambangkan keberakhiran segala sesuatu. Bahwa segala sesuatu ada akhirnya, ada batasnya. Makna motif ini juga sering ditemukan dalam ungkapan orang Manggarai, seperti “par awo, kolep sale”. Artinya bahwa matahari itu terbit di timur dan pasti akan tenggelam di bagian barat. Seperti itu pula hidup manusia, ada awal, tentu ada akhirnya. Motif ini menggambarkan eksistensi manusia yang terbatas.
·         Motif Ntala (Bintang)
Motif ini terkait erat dengan harapan yang sering dikumandangkan dalam Tudak (doa) seperti: Porong langkas haeng ntala (supaya senantiasa tinggi sampai di bintang). Maksudnya, supaya senantiasa hidu sehat, memiliki umur yang panjang dan juga memiliki pengaruh yang lebih dari orang lain dalam hal membawa terang perubahan. Motif ini menggambarkan cita-cita dan harapan orang Manggarai yaitu memperoleh kebaikan dan kesehatan yang cukup.
Masih terdapat banyak motif dalam kain songke, namun motif di atas merupakan motif yang lazim digunakan hingga sekarang.
Keindahan yang terpahat dalam Kain songke
Kain songke orang Manggarai memiliki nilai  keindahan dan kesenian yang amat luhur. Orang manggarai mampu melukiskan nilai kehidupan mereka dalam kain adat ini. Keindahan kain songke ini terpahat jelas dalam perpaduan multi motif di dalamnya. Motif ini disusun sedemikian rupa sehingga memancarkan nilai keindahan yang khas dan juga memuat aneka ragam makna dan simbol. Meski tidak memiliki referensi yang jelas terkait kapan dan darimana terbentuknya motif-motif tersebut, namun perlu diakui bahwa dalam kain songke ini, orang Manggarai mampu merumuskan dan menggambarkan nilai hidup yang perlu mereka perjuangkan dalam keseharian mereka.
Seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa dalam setiap motif yang dipakai dalam kain songke memiliki syarat makna, karena itu, mesti diakui bahwa orang Manggarai memiliki imajinasi kreatif dan kesenian yang amat tinggi. Mereka mampu menggambarkan kehidupan mereka dalam aneka motif yang terdapat dalam kain songke yang sekarang banyak dinikmati dan diminati oleh banyak orang, baik dalam lingkup reginal, nasional maupun internasional.