Wikipedia

Hasil penelusuran

Kamis, 28 Februari 2019

Surat Kepada Makhluk Yang Tak Bernama



Oleh: Anang98 
            Kepada makhluk yang tak ternama, namun tak terlupakan. Salam hangat bagimu, salam jumpa dalam tulisanku ini. Sudah sekian lama kita tak jumpa, hingga aku lupa kalau saja kau masih ada. Aku hampir tidak tahu, kalau parasmu semakin cantik hingga saat ini. Aku lupa, kapan terakhir kali aku menatap parasmu yang cantik itu, namun lembut rambutmu dan hitam manis kulitmu itu mengingatkan bahwa pernah kubelai rambutmu di tepi telaga ketika senja itu. Aku juga hampir lupa, kapan terakhir kali kita berjumpa, namun atap kantin itu, mengingatkan aku bahwa kita pernah menyeruput kopi bersama di bawah teduhnya sebelum kau dan aku berpisah. Aku juga lupa, kalau memang kita pernah bersama. Namun senyum sipu dari mulut mungilmu itu mengingatkan aku bahwa memang benar kita pernah tertawa bersama, menyatakan kepada dunia bahwa kita bahagia pada waktu itu. Aku bahkan hampir lupa, seperti apa parasmu sekarang, namun lesung pipi manismu dan mancung hidungmu itu menyatakan bahwa itu adalah kau seperti yang aku lihat kala itu.
            Apa kabarmu, makhluk berparas manis? Maaf, aku tidak mencantumkan namamu, sebab ia begitu melekat di hati ketika menulis surat ini untukmu. Sepertinya, ia betah untuk tinggal di sini entah sampai kapan, aku juga tidak tahu. Maaf juga kalau aku sedikit kelakar denganmu. Jujur, sesungguhnya rindu menyuruhku untuk menuliskan surat ini untukmu. Aku juga minta maaf, kalau pilihan yang melahirkan jarak membuat kita saling merindu dan menyiksa diri untuk saling mengingatkan satu sama lain. Aku terlalu sibuk dengan duniaku saat ini, hariku selalu dipadatkan dengan tumpukan rutinitasku, tanpa tahu kalau rindu secara diam-diam tumbuh di antara kita. Tidak salahkan, kalau saat ini aku meluangkan waktuku untuk menceritakan ini kepadamu, sebagai bentuk penghormatanku kepada rindu yang semakin menjadi. Kamu boleh bilang kalau aku terlalu ego, hingga lupa mengabarimu. Tapi, jangan salahkan aku. Salahkan saja hukum alam yang telah mengaturnya demikian. Kalau aku mau bilang, sejujurnya aku selalu ingin mengabarimu bahkan selalu berada dekatmu. Lalu, menatapmu dari dekat dengan sedikit bergumam, “kamu terlalu cantik saat ini melampaui kodrat.” Kamu memang cantik semenjak Tuhanmu membentuk engkau dalam Rahim ibumu. Aku tidak bisa menyangkal itu.
            Kau tahu, kemarin aku terbangun dari tidurku,lalu seakan menatapmu secara dekat. Manis bibirmu dan lesung pipimu itu, menawar hati untuk menciummu cepat-cepat. Eh, ternyata aku terbawa dalam mimpi tentangmu. Tentang suatu hari dulu pada bulan yang sama seperti bulan Maret ini. Kala waktu itu, kita pernah sempatkan diri untuk berjalan bersama lalu bergandengan tangan tanpa kata. Karena senja waktu itu yang kian menjemput dinginnya malam, kita menghangatkan diri dengan menyeruput kopi di bawah atap kantin sekolah. Ketika itu, kita bahagia bersama. Wajahku dan wajahmu menyatu dalam secangkir kopi. Aroma kopi yang berbarengan dengan wajah manismu itu, menyisakan keharuman di kedalaman hati. Lalu, kita saling tatap hingga lesung pipimu sempat kau siarkan langsung di depan kedua bola mataku waktu itu. Aku terjatuh dalam senyummu. Jantungku tercopot dari tempat asalnya, tanpa tahu kalau waktu dia sedang mencintaimu secara diam-diam. Demikian mimpiku yang secara diam-diam menjelma menjadi rindu dan menyuruhku untuk mengisahkan semuanya kepadamu.
            Untukmu makhluk berparas manis yang tak bernama, Salahkah aku menceritakan semua ini kepadamu? Jujur saja, seperti yang telah kukatakan sejak awal, aku menulis semua ini karena rindu. Aku berharap, kau baik-baik saja di sana. Lalu, pada suatu senja, kau duduk di tepi telaga dan perlahan mengingatkan semua yang kuceritakan ini kepadamu. Aku tahu, kita jauh. Tapi ingatlah, wajahmu dan wajahku pernah menyatu. Lesung pipimu membuatku jatuh cinta hingga cintaku hampir jatuh. Aku berharap, langit yang pernah dijadikan larik puisi dan senja yang pernah kita warnai bersama akan kembali dalam waktu yang berbeda. Lalu, kita bercerita dibawahnya tentang kita dan masa depan kita.

Millano, 01 Maret 019.
Dari seseorang yang mengagumimu terus-menerus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar