Oleh: Anang98
Kepada makhluk yang tak ternama,
namun tak terlupakan. Salam hangat bagimu, salam jumpa dalam tulisanku ini. Sudah
sekian lama kita tak jumpa, hingga aku lupa kalau saja kau masih ada. Aku
hampir tidak tahu, kalau parasmu semakin cantik hingga saat ini. Aku lupa,
kapan terakhir kali aku menatap parasmu yang cantik itu, namun lembut rambutmu dan hitam manis kulitmu
itu mengingatkan bahwa pernah kubelai rambutmu di tepi telaga ketika senja itu. Aku juga
hampir lupa, kapan terakhir kali kita berjumpa, namun atap kantin itu,
mengingatkan aku bahwa kita pernah menyeruput kopi bersama di bawah teduhnya
sebelum kau dan aku berpisah. Aku juga lupa, kalau memang kita pernah bersama.
Namun senyum sipu dari mulut mungilmu itu mengingatkan aku bahwa memang benar
kita pernah tertawa bersama, menyatakan kepada dunia bahwa kita bahagia pada
waktu itu. Aku bahkan hampir lupa, seperti apa parasmu sekarang, namun lesung
pipi manismu dan mancung hidungmu itu menyatakan bahwa itu adalah kau seperti
yang aku lihat kala itu.
Apa kabarmu, makhluk berparas manis?
Maaf, aku tidak mencantumkan namamu, sebab ia begitu melekat di hati ketika
menulis surat ini untukmu. Sepertinya, ia betah untuk tinggal di sini entah
sampai kapan, aku juga tidak tahu. Maaf juga kalau aku sedikit kelakar
denganmu. Jujur, sesungguhnya rindu menyuruhku untuk menuliskan surat ini
untukmu. Aku juga minta maaf, kalau pilihan yang melahirkan jarak membuat kita
saling merindu dan menyiksa diri untuk saling mengingatkan satu sama lain. Aku
terlalu sibuk dengan duniaku saat ini, hariku selalu dipadatkan dengan tumpukan
rutinitasku, tanpa tahu kalau rindu secara diam-diam tumbuh di antara kita.
Tidak salahkan, kalau saat ini aku meluangkan waktuku untuk menceritakan ini
kepadamu, sebagai bentuk penghormatanku kepada rindu yang semakin menjadi. Kamu
boleh bilang kalau aku terlalu ego, hingga lupa mengabarimu. Tapi, jangan
salahkan aku. Salahkan saja hukum alam yang telah mengaturnya demikian. Kalau
aku mau bilang, sejujurnya aku selalu ingin mengabarimu bahkan selalu berada
dekatmu. Lalu, menatapmu dari dekat dengan sedikit bergumam, “kamu terlalu
cantik saat ini melampaui kodrat.” Kamu memang cantik semenjak Tuhanmu
membentuk engkau dalam Rahim ibumu. Aku tidak bisa menyangkal itu.
Kau tahu, kemarin aku terbangun dari
tidurku,lalu seakan menatapmu secara dekat. Manis bibirmu dan lesung pipimu
itu, menawar hati untuk menciummu cepat-cepat. Eh, ternyata aku terbawa dalam
mimpi tentangmu. Tentang suatu hari dulu pada bulan yang sama seperti bulan
Maret ini. Kala waktu itu, kita pernah sempatkan diri untuk berjalan bersama
lalu bergandengan tangan tanpa kata. Karena senja waktu itu yang kian menjemput
dinginnya malam, kita menghangatkan diri dengan menyeruput kopi di bawah atap
kantin sekolah. Ketika itu, kita bahagia bersama. Wajahku dan wajahmu menyatu
dalam secangkir kopi. Aroma kopi yang berbarengan dengan wajah manismu itu,
menyisakan keharuman di kedalaman hati. Lalu, kita saling tatap hingga lesung
pipimu sempat kau siarkan langsung di depan kedua bola mataku waktu itu. Aku
terjatuh dalam senyummu. Jantungku tercopot dari tempat asalnya, tanpa tahu
kalau waktu dia sedang mencintaimu secara diam-diam. Demikian mimpiku yang
secara diam-diam menjelma menjadi rindu dan menyuruhku untuk mengisahkan
semuanya kepadamu.
Untukmu makhluk berparas manis yang
tak bernama, Salahkah aku menceritakan semua ini kepadamu? Jujur saja, seperti
yang telah kukatakan sejak awal, aku menulis semua ini karena rindu. Aku
berharap, kau baik-baik saja di sana. Lalu, pada suatu senja, kau duduk di tepi
telaga dan perlahan mengingatkan semua yang kuceritakan ini kepadamu. Aku tahu,
kita jauh. Tapi ingatlah, wajahmu dan wajahku pernah menyatu. Lesung pipimu
membuatku jatuh cinta hingga cintaku hampir jatuh. Aku berharap, langit yang
pernah dijadikan larik puisi dan senja yang pernah kita warnai bersama akan
kembali dalam waktu yang berbeda. Lalu, kita bercerita dibawahnya tentang kita dan masa depan kita.
Millano, 01 Maret
019.
Dari seseorang yang
mengagumimu terus-menerus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar