Salam rindu bagimu semua yang telah hadir dalam ceritaku ini. Aku sempat berpikir bahwa barangkali ini adalah cara terbaik untuk mengabadikan moment penuh kekeluargaan yang telah saya alami bersama para saudara sekalian di Duli terlebih bagi keluarga di Tanah Merah, KUB Maria Bunda Segala Bangsa. Sekali lagi, saya ingin mengatakan bahwa rindu sulit untuk didefenisikan dalam penalaran akal budi. Sebab, kerap kali sebuah perasaan tidak dapat diejawantahkan dalam kata- kata dan hanya bisa dirasakan.
Saya memulai kisah ini dari hari pertama saya berada disana sampai akhirnya saya pamit untuk kembali pulang dalam rutinitas dan habitat saya sendiri. Kisah ini berawal dari secangkir teh yang menyambut selamat datang dan ditutupi dengan secangkir kopi perpisahan. Ya, saya mengatakannya demikian karena memang semenjak saya datang pertama kali, saya disambut dengan secangkir teh hangat buatan kakak saudari di rumah tempat saya tinggal. Jangan tanyakan kenapa bukan secangkir kopi karena memang saya belum memperkenalkan diri kalau saya pecinta kopi. Hehhee...
Singkat cerita, seusai episod teh hangat, saya ingin memperkenalkan keluarga kecil saya disana. Mereka adalah kaka Dus, kaka Putri, nenek, adik Egi dan adik Naldo (gengster di rumah sekaligus geng kompleks yang ditakuti oleh kebanyakan teman-temannya). Mereka telah mengisi haei-hari saya disana dan telah memberikan warna baru dalam petualangan ini.
Mereka sangat baik dan menyambut kehadiran saya dengan seadanya mereka. Saya mulai merasakan suasana kehangatan dan kekeluargaan disana ketika sudah mulai memperkenalkan diri kepada mereka. Jujur, saya ingin mengatakan bahwa serasa berada di kediaman sendiri dengan secangkir kopi yang disuguhkan mama di rumah. Suasana rumah itu, kini saya alami disana.
Lalu, apa rutinitas saya disana? Hehehe, tanpa secangkir bumbupun saya ingin mengatakan bahwa benar apa yang disabdakan Tuhan, "Datanglah pada-Ku maka segalanya akan disediakan bagimu." Saya benar-benar merasakan suasana kekeluargaan yang hakiki seperti suasana rumahku sendiri. "Ah, Tuhan! Betapa bahagianya aku berada disini. Kalau Tuhan mau, izinkan aku membangun tiga kemah disini, satu untuk Tuhan, satu untuk keluarga disini dan satunya lagi untuk diriku sendiri."(sahutku dalam hati).
Hari-hari kami disana selalu diisi dengan canda tawa dan suasana keakraban yang tak bisa tergambarkan dengan cetakan huruf ini. Banyak hal yang saya timba dari sumur dan ladang kehidupan disana termasuk adat dan kebiasaan disana. Lalu, hal apa yang mengundang perasaan rindu itu muncul? Sejak awal kisah saya sudah sampaikan bahwa rindu datang selalu tiada tanpa sebab karena memang, ia hadir pada sesuatu yang berarti dan terlampau pergi. Saya mungkin telah mengatakannya dari awal kisah ini, kalau hal yang sangat mengesankan bagi saya itu adalah suasana keakraban dan ramah-tamah kalian disana.
Tak terhitung singkat cerita 7 hari kami berada disana. Ingatkan saja kalau suasana keramaian, kekeluargaan dan keakraban itu yang sangat mengesankan bagi saya.
Akhirnya, sebelum saya mengakhiri tulisan ini saya ingin mengisahkan satu hal lagi kalau kisah ini diakhiri dengan secangkir kopi buatan nenek di rumah yang disuguhkan dengan hati yang ikhlas. Kenapa kopi, karena nenek sudah tahu kalau saya jiwa kopi.
Ada rindu dari gubuk Millano buat keluarga, sahabat, dan saudara semua di kampung Tanah Merah, tempat hati menemukan suasana rumah yang jauh disana. Jangan lupa bahagia.π
Gubuk Millano,15 Agustus 2019
Oleh: Dolin Anang.

Salamku kaka dus kaka putri..terlebih lagi jagoan ade naldo dan egi..yg selalu temani kami selama satu bulan kklp du tempat yg sama di desa reroja.tanah merahπππ
BalasHapusAkan disampaikan kak,salam.
HapusAkan disampaikan kak. Salam..
BalasHapusDari sudut kota Daeng titip rindu buat Kaka Dus,Ka Putri,Adik Naldo,Ade Egi dan Nenek.Sungguh hati ini rindu ingin bertemu sama sama mereka. Kurang lebih dua bulan saya dan 2 orang teman tinggal di rumah itu dalam menjalankan pengabdian kami terhadap masyarakat.Terima kasih Tuhan karna kami diterima dan di perlakukan sama seperti keluarga kandung. Rinduh Rerorija,Tanah Merah,Woloboa,dan Dusun kecil yang penuh dengan cerita (Dusun Dulu).
BalasHapusTerima kasih kak, salam hangat dari mereka. Jika waktu berpihak, boleh kita menumpang bertemu.. salam...
Hapus