(Surat
ini dipersembahkan kepada masa lalu yang tak kunjung berlalu dari seseorang
yang candu akan masa lalu dan berharap semuanya akan berlalu setelah kata “maaf”
darinya diterima dengan sukacita).
Dunia sedang dilandai musim kering.
Hawa sejuk dan dingin menampar keras pada pori-pori kulitku hingga perlahan
menyusup hingga jantung sampai hati yang merindu suasana yang sama beberapa
waktu silam. Tepat pada musim seperti ini, kau hadir waktu itu dengan segala
sukacita. Aku menyambutmu dengan sebait puisi cinta, tanpa tahu kalau kau mulai
betah entah pada bait puisi ataukah pada hati yang melahirkan puisi itu.
Entahlah, aku tidak mempersoalkan itu lagi sebab kita tak lagi mengucapkan
salam yang sama kala itu. Kita telah berdiri satu-satu dari kita yang
pernah bersatu. Kita telah lupa pada
malam mingguan dan kini kita sebut sebagai sabtu malam. Yang ada padaku
sekarang ini hanya mengolok mereka yang masih bermalam mingguan dalam suasana
kita yang sepi di sabtu malam ini. Aku mencoba mengalihkan bahasanya dengan
tujuan untuk memulihkan semua perasaan yang terjadi di antara kita pada malam
mingguan dulu.
Maaf,
aku tak tahu lagi harus dengan kata apa aku menjelaskannya. Setelah semua
tentang aku, kamu dan buku teka-teki ini tak lagi saling menyapa. Kisah ini
bermula saat kita mengatakan “Ya” pada hati yang memikiki perasaan yang sama.
Pada waktu itu, kita sepakat untuk menjalin hubungan dalam nada cinta. Lalu,
tanpa canggung, kita perkenalkan buku teka-teki ini sebagai perantara di antara
kita untuk saling menyapa dan bertanya tentang banyak hal. Sebelumnya, aku
ingin berkata bahwa aku pernah bersyukur dengan kehadiranmu dalam kisah ini.
Aku, kau perkenalkan dengan banyak hal termasuk mengisi teka-teki ini meski tak
pernah tuntas hingga detik ini. Lalu, hingga semua ini berakhir, aku merasa
bersalah dan tak mampu menjaga “kita” dan juga telah mengingkar janji bahwa
kita akan menuntaskan teka-teki ini.
Tepat ketika hati kita masih betah
dalam nada cinta, kisah ini dimulai. Waktu itu, kita saling berjanji untuk
menjaga hati dan menjawab segala tanya yang akan kita hadapi dalam perjalanan
hubungan ini. Termasuk aku pada waktu itu, dengan nada yang kuat menyatakan
siap untuk menjalani ini dan mengambil semua resiko yang akan kita hadapi.
Sebelum aku menunjukmu, mestinya kau juga tahu bahwa kau ikut mengatakan “ya”
pada waktu itu. Detik pertemuan itu begitu singkat, hingga hati kita memiliki
rutinitas dan profesi yang baru dalam hidup. Sebelumnya, aku hanya mengenal
dunia kampusku tanpa ada tanya tentang kau dalam segala hariku. Hadirmu,
membawa rutinitas baru bagiku waktu itu. Jujur saja, baru setelah mengenalmu
aku mengenal teka-teki silang. Kehadiranmu pada waktu itu membawa aku pada
dunia yang baru dan agak rumit karena harus mengisi teka-teki itu di waktu
senggang.
Aku tidak tahu alasanmu pada waktu
itu memberi buku TTS itu. Seingatku, TTS itu, kau hadiahkan waktu hari ulang
tahunku yang ke-21 tanpa tahu maksudmu apa. Aku sementara mabuk bahagia dengan
acara ulang tahunku kala itu, dan tidak menanyakan lebih dalam tentang TTS itu.
Jujur saja, yang ada dalam benakku terkait TTS itu adalah bahwa ketika aku
berhasil mengerjakan semuanya, itu mengandaikan bahwa aku berhasil menjawab
segala tanya yang kau lontarkan kepadaku. Lalu, pada waktu itu kau memintaku
untuk mengembalikan TTS bila waktu memihak pada kita untuk saling tatap muka
yang pertama kalinya. Hari demi hari, aku meluangkan waktuku untuk mengisi dan
berharap bisa menyelesaikannya. Aku bahkan merelakan pekerjaan pokok yang
semestinya aku utamakan pada waktu itu demi TTS itu. Hingga, pada suatu
kesempatan, aku lelah dan ingin menyerah. Namun, karena kuatnya dukunganmu, aku
coba mengingatkanmu dalam setiap kelemahanku dan mencoba untuk bangkit kembali.
Aku patut bersyukur untuk itu, sebab tidak semua orang memiliki nasib yang
beruntung seperti aku karena kuatnya dukunganmu. Namun, aku berhutang budi
padamu, dengan segala kerendahanku, aku minta maaf sebab aku tidak bisa mengisi
teka-teki itu sampai tuntas. Aku hanya menyelesaikan bagian mana yang aku bisa,
selebihnya, aku kembalikan padamu.
Hingga sampai pada detik ini, waktu
belum memihak pada kita untuk bertemu dan aku telah menyerah untuk melanjutkan
teka-teki itu. Kamu marah dan berpaling dariku. Menyibukkan diri dengan
rutinitasku sebelumnya adalah caraku untuk menyembunyikan luka karena ketidak sanggupanku.
TTS yang engkau berikan itu pun, telah aku tutup dan tak pernah kusentuh lagi.
Meski masih banyak yang rumpang dan belum terisi, aku tetap tidak berani
menyentuhnya lagi. Sebab, sejak saat kau menutup kisah ini, sejak saat itu pula
aku menutupnya rapat-rapat. Aku hanya berharap akan waktu untuk bertemu, meski
tidak seperti yang kita janjikan dulu. Jika tiba waktunya, akan aku ceritakan banyak
hal dan segudang maafku padamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar