Oleh: Dolin Anang
Pengantar: Kaum muda membaca realitas
Pengantar: Kaum muda membaca realitas
Segala
sesuatu pasti memiliki makna dan nilai keindahan dalam dirinya sendiri. Nilai
keindahan pada sesuatu itu akan tampak
jelas diketahui jika manusia sebagai penikmat seni mampu menyelami dan
menemukan nilai keindahan itu pada suatu barang apa pun. Pada barang ciptaan,
tentu nilai keindahan itu diciptakan oleh manusia sendiri sabagai pencipta
seni. Bagaimana ia melukiskan sesuatu dan memaknai sesuatu itu dalam barang
ciptaannya. Dari kesenian itulah muncul nilai keindahan yang dapat dinikmati
oleh banyak orang sebagai penikmat seni.
Pesatnya
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam suatu sisi membawa manusia
kepada kehidupan yang serba modern seperti hidup serba instan. Namun, jika ditelisik dari sudut pelestarian budaya,
perkembangan ini justru menyenangkan manusia yang barangkali berdampak pada
kelunturan bahkan kehilangan nila-nilai budaya masyarakat setempat yang telah
lama hidup sebelumnya. Bahkan yang lebih memprihatinkan adalah praktek
kebudayaan atau pun hasil kebudayaan itu hanya dilihat sebagai sesuatu yang
begitu-begitu saja atau dianggap sebagai ritual semata tanpa pernah menyelami
nilai yang terkandung di dalamnya.
Berlatar pada realitas ini, penulis mencoba menilik suatu
nilai keindahan yang terdapat dalam salah satu hasil kebudayaan orang Manggarai
yaitu pada kain adat songke orang
Manggarai sendiri. Selain daripada itu, barangkali makna dan nilainya masih
bersifat kabur bagi kebanyakan orang, baik bagi orang Manggarai sendiri maupun
bagi orang luar yang ingin mengenal dan mengetahui nilai keindahan dalam kain songke orang Manggarai.
Mengenal Kain
Adat Songke
Orang Manggarai
dan Aneka Motif di Dalamnya
Kain songke merupakan suatu bentuk hasil karya seni orang Manggarai dalam bentuk tenunan
ikat yang syarat nilai dan simbol. Nilai-nilai yang terkandung dalam kain songke, biasa ditemukan dalam warna
kain dan pada motif-motif kain tersebut. Berikut ini akan dipaparkan beberapa
motif pada kain songke yang lazim
digunakan, serta makna dalam setiap motif yang dirajut di dalamnya, sebagaimana
terdapat dalam buku “kebudayaan manggarai
sebagai salah satu khasanah kebudayaan nasional” karya (Drs. Anthony Bagul
Dagur: 1998).
·
Warna
dasar Hitam
Adalah warna kebesaran/ keagungan orang Manggarai. Warna
dasar hitam melambangkan kepasrahan karena sikap tanatos yaitu bahwa kehidupan adalah prosesi dari Allah menuju
Allah. Oleh karena itu, dalam upacara kematian orang Manggarai, orang yang
meninggal itu dibungkus atau diselimuti oleh kain adat songke itu sendiri sebagai lambang keberakhiran. Bukan hanya pada
warna dasar hitam, Aneka motif bunga pada kain songke juga mengandung banyak
makna sesuai motif itu sendiri seperti beberapa di antaranya adalah sebagai
berikut:
·
Motif
Jok
Yaitu motif dasar yang unik sebagai salah satu jati diri
budaya Manggarai. Jok melambangkan
persatuan baik persatuan menuju Allah (Mori
Jari Dedek) penguasa alam semesta, maupun persatuan dengan sesama manusia
dengan alam sekitarnya. Jok terkait
erat dengan bentuk atap rumah adat Manggarai dan model “Lodok Langang” (kebun komunal).[1]
·
Motif
Wela Kaweng
Bentuk motif ini diambil dari tumbuhan bunga kaweng yang banyak tumbuh di wilayah
Manggarai. Motif ini bermakna interdependensi antara manusia dengan alam
sekitarnya. Tumbuhan kaweng baik daunnya maupun bunganya untuk
dijadikan bahan pengobatan luka dari hewan piaraan/ternak. Motif ini mengajarkan
kita bahwa alam flora menunjang kehidupan manusia, baik sebagai makanan dan
perumahan maupun untuk pengobatan; oleh karena itu, lestarikan alam lingkungan.
·
Bunga
songke bermotif Ranggong (Laba-laba)
Laba-laba tekun membuat jaringan dan motif ini bersimbol kejujuran
dan kerja keras /cermat. Diyakini dan disadari, bahwa laba-laba tidak pernah
mencuri atau cari gampang sepeti tikus. Melalui motif ranggong yang syarat
makna ini, orang Manggarai selalu diingatkan untuk senantiasa bekerja keras,
cermat dan jujur, sehingga beroleh rezeki dari ketekunan bekerja secara cermat
dan jujur. Hanya dengan kejujuran orang hidup tenang, tidak diburu seperti
tikus.
·
Motif
Su’i (garis-garis batas)
Melambangkan keberakhiran segala sesuatu. Bahwa segala
sesuatu ada akhirnya, ada batasnya. Makna motif ini juga sering ditemukan dalam
ungkapan orang Manggarai, seperti “par
awo, kolep sale”. Artinya bahwa matahari itu terbit di timur dan pasti akan
tenggelam di bagian barat. Seperti itu pula hidup manusia, ada awal, tentu ada akhirnya.
Motif ini menggambarkan eksistensi manusia yang terbatas.
·
Motif
Ntala (Bintang)
Motif ini terkait erat dengan harapan yang sering
dikumandangkan dalam Tudak (doa)
seperti: Porong langkas haeng ntala (supaya
senantiasa tinggi sampai di bintang). Maksudnya, supaya senantiasa hidu sehat, memiliki
umur yang panjang dan juga memiliki pengaruh yang lebih dari orang lain dalam
hal membawa terang perubahan. Motif ini menggambarkan cita-cita dan harapan
orang Manggarai yaitu memperoleh kebaikan dan kesehatan yang cukup.
Masih terdapat banyak motif dalam kain songke, namun
motif di atas merupakan motif yang lazim digunakan hingga sekarang.
Keindahan
yang terpahat dalam Kain songke
Kain songke orang Manggarai memiliki nilai keindahan dan kesenian yang amat luhur. Orang
manggarai mampu melukiskan nilai kehidupan mereka dalam kain adat ini. Keindahan
kain songke ini terpahat jelas dalam perpaduan multi motif di dalamnya. Motif
ini disusun sedemikian rupa sehingga memancarkan nilai keindahan yang khas dan
juga memuat aneka ragam makna dan simbol. Meski tidak memiliki referensi yang
jelas terkait kapan dan darimana terbentuknya motif-motif tersebut, namun perlu
diakui bahwa dalam kain songke ini,
orang Manggarai mampu merumuskan dan menggambarkan nilai hidup yang perlu
mereka perjuangkan dalam keseharian mereka.
Seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa dalam setiap
motif yang dipakai dalam kain songke memiliki syarat makna, karena itu, mesti
diakui bahwa orang Manggarai memiliki imajinasi kreatif dan kesenian yang amat
tinggi. Mereka mampu menggambarkan kehidupan mereka dalam aneka motif yang
terdapat dalam kain songke yang sekarang banyak dinikmati dan diminati oleh
banyak orang, baik dalam lingkup reginal, nasional maupun internasional.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar